Sabtu, 27 Oktober 2012

Kalam CfE

Care For Education hanyalah sebuah nama, sebuah nama tentang gerakan pendidikan. Sebuah nama yang selalu kita kembalikan kepada tatanan makna yang sebenarnya, bukan sebuah nama yang mulai trend dengan pergeseran makna hakekatnya, seperti yang telah terjadi dalam tatanan peradaban modern, peradaban modern yang ternyata hanyalah sebuah plagiatisme semata, Negara yang nyatanya hanyalah sebuah sistem perusahaan, kepemimpinan, yang nyatanya hanyalah sebuah paradoks mencari upeti dan menjadi buruh dinegeri sendiri, institusi pendidikan yang sekarang malah menjadi sebuah industri dengan profit tinggi, kemanusiaan yang dijunjung tinggi menyisakan sebuah elegi negeri yang tak tau diri, ketuhanan,dengan nama tuhan yang mulai disejajarkan dengan ketenaran, padahal tuhan itu bukan artis.

Latihan dasar kepemimpinan menjadi ajang pencarian bakat para pemimpin- pemimpin instan dengan segala embel-embel gelar dan sertifikatnya, padahal mie instan-pun perlu proses untuk dapat disajikan. Dan ini adalah sebuah gerakan kecil dari hal yang paling kecil yaitu "kepedulian", dari hal yang paling dasar untuk mengangkat derajat seseorang yaitu "pendidikan". karena ini adalah sebuah gerakan peduli pendidikan maka siapapun dia yang ada didalam gerakan ini akan selalu meniadakan dirinya, Riri Artakusuma yang akan selalu menjadi Riri seutuhnya tak perlu menggembar-gemborkan siapa diri dibalik nama Riri Artakusuma, Valentina Palma, dia akan selalu menjadi Valent yang selalu siap dalam kondisi apapun untuk melancarkan gerakan ini dan Zaenmi Arlis yang dalam keheningannya akan selalu mendukung apapun keputusan untuk operasional CfE, kemudian satu hal yang membuat suatu kegaguman adalah para relawan lainnya, padahal mereka belum tahu benar visi dan misi dari gerakan ini. Akan tetapi mereka tahu ini sebuah gerakan peduli pendidikan dan mereka tahu makna hakekat gerakan ini, ini bukti sebuah ketulusan. Ada atau tidaknya para perintis gerakan ini bukanlah sebuah alasan untuk kelangsungan gerakan ini.

Kepedulian terhadap pendidikan bukan hanya di ranah akademik yang lebih sering menyisakan intrik. Ada sebuah kewajiban dari orang yang merasa terdidik untuk mendidik orang lain yang belum terdidik agar mereka mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang dapat mengembalikan mereka,  kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang menuhankan Tuhan bukan ketuhanan.
 
"Karena pendidikan adalah mata uang paling laku di seluruh negeri dimuka bumi ini"

Minggu, 27 Mei 2012

Jangan Biarkan Lilin itu Padam : Refleksi 1 tahun Care for Education (CFE)


Boleh aja kalau mau buat sekolah disini, itu tuh tempatnya deket pos lapak didepan sana..”  Jawab salah satu preman di kawasan pemulung , Rawamangun.  Terik matahari yang begitu menyengat tidak mematahkan semangat sekelompok anak muda yang mempunyai misi yang sama yaitu berbuat sesuatu untuk membantu pendidikan negeri ini. Saat ini sekelompok anak muda tadi lebih dikenal dengan  team CFE (Care for Education). Tak muluk-muluk saat itu harapan team CFE, kami hanya ingin berbuat sesuatu, mengajar anak-anak yang kurang mampu dan anak-anak jalanan yang terpinggirkan dari pendidikan,  itu saja. Ya hanya itu saja yang ada dipikiran kami saat itu.

Sepetak ruang kecil, nampak kotor, bau dan sangat tak terurus. Itulah ruang yang nantinya digunakan untuk tempat bermain dan belajar. Dengan itikad dan semangat penuh, sekelompok anak muda tadi membereskan sekaligus membersihkan ruangan. Kondisi yang kotor dan kumuh memang sudah menjadi pemandangan biasa disekitar area tempat kami mendirikan kelas belajar. Hampir tidak ada area yang cukup bersih dan representatif untuk menjadikan kelas belajar, namun alhamdulillah berkat kerjasama kami bisa membuat satu kelas yang sederhana namun cukup baik untuk bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Namun begitu tetap saja di awal, ketika cuaca panas menyengat, ruang belajar yang disediakan menjadi sangat tidak nyaman. Saya masih ingat betul bagaimana ruang belajar kami yang beratap asbes, membuat kondisi semakin panas ditengah cuaca panas dan anak-anak yang belajar tak betah berlama-lama di dalam kelas, mereka memilih keluar dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun.

Hari demi hari kami lalui dengan segala tantangannya. Mulai dari area belajar yang jauh dari representatif, alat-alat belajar seadanya yang terkadang tak cukup untuk mengcover jumlah anak-anak yang belajar. Satu meja tulis bisa digunakan untuk 3 anak, yang semestinya hanya untuk 2 orang anak, sampai dengan alas belajar dengan terpal bekas. Belum lagi beberapa volunteer yang silih berganti. Ya, memang segala sesautunya akan teruji dengan sendirinya. Namun tetap bersyukur, tim perintis CFE tetap berdiri tegak sampai saat ini, dan inshaAllah selamanya. Tapi tantangan tidak hanya sampai disitu, ketidakpedulian orang tua dari anak-anak yang bermain dan belajar bersama kami pun menjadi pelengkap tantangan kami untuk terus konsisten mengajar sambil bersabar mereka mau ikut melihat dan menemani anak-anaknya belajar bersama kami. Tak terasa memang, tidak sampai 6 bulan CFE berjalan, anak-anak semakin menjadi sahabat yang selalu merindukan dan dirindukan CFE. Orang tua semakin aktif untuk bekerjasama dengan kami, mendorong anak-anak untuk belajar. Tak lain memang itu semua buah dari kesabaran.

Tak cukup rasanya tantangan sampai disitu. Desember 2011, kondisi yang paling tidak kami harapkan terjadi. Area pemberdayaan kami untuk mengajar digusur. Sebagian alat-alat belajar tak sempat kami selamatkan. Untunglah masih ada barang-barang lain pendukung belajar tidak semua kami taruh di kelas. Namun begitu, setelah kejadian tersebut kami tidak pupus untuk terus mengajar. Belajar pun bukan lagi hambatan. Kami memutuskan untuk meneruskan kegiatan bermain dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun. Sungguh miris mengetahui sekaligus menjalani kondisi ini. Kesenjangan sudah nampak terlihat. Bagaimana sekolah-sekolah lain dengan begitu nyamannya mengadakan proses belajar-mengajar,disisi lain kami mesti berjuang untuk terus mengajar ditengah kondisi debu, polusi kendaraan, prasarana yang minim dan seadanya.

Tidak ada kata menyerah. Itulah yang tetap saya lihat, semangat dari sahabat-sahabat sekaligus team CFE. Semua tetap bahu-membahu menebarkan semangat satu sama lain untuk terus berjuang memberikan pendidikan kepada anak-anak terpinggirkan. Dedikasi mereka tak diragukan. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa, namun bagi saya yang melihat langsung apa yang mereka kerjakan dan bagaimana kontribusi mereka sekaligus merasakan sendiri tantangan-tantangan yang dihadapi, karenanya bagi saya mereka (sahabat sekaligus team CFE) adalah insan luar biasa. Bukan hanya itu saja, mereka pun konsisten tetap semangat menjalankan misi CFE ini, dengan kondisi seadanya, tak berbayar. Mereka dengan sukarela melakukan semua. Meski mereka bekerja, kuliah dan dalam kondisi ekonomi yang biasa saja, tapi mereka mempunyai konsistensi yang begitu luar biasa. Salute!

Dedikasi dan konsistensi semakin terlihat ketika kondisi sekolah kami tergusur, sahabat team CFE dengan sabar satu persatu, mencari adik-adik kami yang akhirnya terpencar entah kemana. Sebagian dari mereka yang belajar sebelumnya bersama kami sempat tak ada, dan entah dimana. Mereka berusaha menelusuri dimana jejak keluarga adik-adik yang belajar bersama kami. Sungguh bukan hal yang mengenakan, namun karena satu semanagat dan tekad yang sama, alhamdulillah kami bisa kembali menemukan dimana adik-adik kami berada. Akhirnya kami kembali mencari tempat baru kembali untuk belajar, dan kembali kami menerima tantangan, kami diusir. 

Memang tak ada konsistensi yang tanpa uji. Pengusiran kami dari tempat yang baru kami buat, tak menyusutkan niat kami untuk tetap mencari tempat baru dan lebih layak bagi adik-adik untuk belajar. Alhamdulillah, ikhtiar berbuah hasil. Seorang sahabat baru yang akhirnya menjadi team CFE, memberikan kesempatan kepada CFE untuk menggunakan tempat yang di kontraknya untuk menjadi tempat belajar adik-adik sekolah pelangi saat ini. Seiring kesabaran, disertai ucapan alhamdulillah untuk kesekian kalinya, saat ini kami bisa kembali mengajar dengan tempat yang layak dari sebelumnya, dan adik-adik di sekolah yang kami beri nama sekolah pelangi terus bertambah. Orang tua pun tak sungkan kadang menemani anak-anak mereka belajar hingga jam bermain dan belajar selesai.

Saat ini ikhtiar CFE terus berkembang, dan alhamdulillah telah melewati satu tahun perjalanannya. Sungguh masih belum apa-apa. Namun betapa saya bersyukur di usianya yang baru 1 tahun CFE telah mampu menjalankan 3 program utamanya secara konsisten. Teaching for Child, Gerakan seribu rupiah untuk sekolah dan Sahabat asuh, dan masih satu PR yang belum bisa dijalankan secara konsisten adalah program smart parenting. Implementasi program Teaching for Child kami lakukan dengan mengadakan pengajaran setiap Sabtu-Minggu di daerah pemberdayaan kami Jl. Pemuda Raya, Rawamangun. Sedangkan Gerakan Seribu Rupiah untuk Sekolah, terus terlaksana dengan adanya soasialiasi mengenai CFE ke berbergai undangan seminar maupun kampus dan mengajak mereka semua untuk melakukan gerakan peduli seribu rupiah untuk sekolah tersebut. Dan untuk program sahabat asuh sendiri, CFE telah memfasilitasi beasiswa bagi 10 siswa SD, 3 SMP, 4 SMK dan 2 Universitas. Fasilitas beasiswa itu semua tak’an ada tanpa bantuan 5 orang donatur sahabat asuh kami. Sekali lagi, alhamdulillah.

Kami sadar ini belum seberapa. Masih banyak lagi yang menjadi PR CFE kedepannya dengan satu paket tantangannya. Namun begitu kami hanya berharap semoga Tuhan YME terus memberikan kesehatan dan kekuatan terhadap kami semua untuk bisa lebih maksimal lagi membantu pendidikan negeri di kemudian hari. Program berikutnya yang segera akan kami jalankan adalah “Benahi sekolahku” dan “1 juta untuk guru”. Semoga ini semua bisa bermanfaat. Hanya itu harapan kami.
Dalam kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat sekaligus team hebat :

  1. Valentina Palma Sastrodiharjo : You are so AWESOME, dear!!
  2. Ady Jovial : Terima kasih atas segala sabar dan  telah menjadi pendukung yang tak kalah luar biasa!!
  3. Zaenmi Arlis : Salute dengan dedikasi mu!
  4. Alif : Bu Guru yang sabar, terima kasih telah gabung berjuang bersama CFE!
  5. Anty : Kamu bukan team yang biasa. Kamu luar biasa!
  6. Isnur : Thank you, telah bersedia menjadi pengurus keuangan kami yang amanah.
Dan bagi para mentor kami yang sungguh luar biasa, Prasetya M. Brata dan Melly Kiong, Terima kasih telah menjadi mentor sekaligus Guru yang luar biasa. Tidak lupa kepada seluruh donator dan sahabat asuh, semoga Tuhan beri keberkahan dan sukses untuk Anda semua.

Semoga tulisan ini bisa menjadi penyulut bagi sahabat-sahabat ku yang lain untuk melakukan hal yang sama  atau bahkan lebih, demi membantu pendidikan negeri ini. Sekedar mengingatkan, bahwa pendidikan negeri ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama. Lakukan apa yang bisa kita lakukan!

Adalah tugas mereka yang terdidik untuk kembali mendidik mereka-mereka yang belum terdidik” -Anies Baswedan-

Riri Artakusuma
Ciputat, 27 Mei 2012

Rabu, 16 Mei 2012

Dilema Status RSBI di Sekolah-Sekolah Negeri


Ketika aku mendapatkan SMS dari seorang sahabat bernama Dhitta Puti Sarasvati mengenai  "Sidang RSBI"di Mahkamah Konstitusi aku ingin sekali untuk menghadiri sidang tersebut yang ternyata itu sidang terakhir.  Dengan penuh semangat aku membawa motor dan tancap gas ke Mahkamah Konstitusi yang terletak di depan Monas - ya walaupun sedikit terlambat, menurutku tak apalah.  Karena di lantai 2 sudah penuh akupun bergegas menggunakan tangga untuk ke lantai 3.

Beberapa saksi sudah mengutarakan pendapatnya di muka sidang, salah satunya sekolah SMP 1 Lumajang yang RSBI. Ada beberapa point yang saya dengar dan catat yaitu :

1) Yang menjadi keunggulan adalah Kelas > Kelasku kamar belajarku
2) Penggunaan Bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (sangat dijunjung)
3) Pemilihan guru juga ditentukan bersama > Ditegaskan bahwa semua guru mempunyai potensi yang sama
4) Gamelan IT > Sebagai Mascot program

Menurut Musni Umar Ph.D (Ketua Komite SMA 70 RSBI tahun 2009 - 2011)

Sekolah unggulan plus ditempelkan embel-embel RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf International), bahwasanya pendidikan itu untuk semua (Education for all). Namun kenyataannya adanya RSBI menimbulkan tidak adanya unsur pemerataan pendidikan.  Mengapa dikatakan demikian :

1) RSBI hanya untuk ORANG KAYA saja
2) Terbagi menjadi Kelas REGULER  > SDDB Rp. 11.200.000
                                                          > Sumbangan Rutin Rp. 425.00
                             Kelas CIB (Akselarasi) > SDDB 11.200.000
                                                                 > Sumbangan rutin 1.000.000
                             Kelas International > I : 31.000.000
                                                          > II : 24.000.000
                                                          > III : 18.000.000

Dalam Pancasila tertuang sila ke 5 "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Pernyataan ini semakin tidak sinkron dan menjadi tidak adil karena hanya mereka yang kaya saja yang bisa bersekolah di RSBI ini - menurut Pak Musni disinilah letak ketidakadilan :

1) Ketidakadilan antar siswa yang kaya dan yang miskin
2) Ketidakadilan antar kepala sekolah dan guru > dimana harus membayar THR ke Kepala Sekolah juga
3) Ketidakadilan antar sekolah
4) Ketidakadilan dengan orang tua siswa > seharusnya menjadi subsidi pemerintah sebesar 15 M, tetapi sebesar 10,3 M (harus ditanggung oleh Orang tua murid) dan 4,7 M ( Pemerintah).

Untuk Mewujudkan sekolah yang berkualitas internasional tidak harus menggunakan nama RSBI. Buktinya : 

*** Sekolah dengan lulusan TERBAIK pada sekolah : 1) SANTA URSULA
                                                                                   2) KRISTEN PENABUR
                                                                                   3) LAB SCHOOL KEBAYORAN BARU

*** Di Kelas International di sekolah SMA RSBI favorit ternama di kawasan Jakarta Selatan pada tahun 2010 ada 2 siswi yang tdak lulus ujian nasional.  Sebenarnya untuk bisa masuk ke beberapa Universitas Unggulan seperti ITB tidak ada kaitannya dengan RSBI.

*** RSBI > Sekolah diatas sekolah bahwa untuk dapat menerima raport harus membayar

*** Yang membedakan adalah LAYANAN SERTIFIKAT dari CAMBRIDGE Univ. (berapa puluh juta sekolah harus membayar lisensi untuk ini). Dan ada beberapa saksi lainnya

Sekarang Menurut Staf Ahli Pendidikan,menghadirkan
1) Daoed Joesoef
2) Prof. Tilaar

Menurut Daoed Joesoef, RSBI tidak sesuai dengan konstitusi > dengan TEGAS SANGAT MENENTANG dan secepatnya harus dibubarkan RSBI.  Dengan alasan :

1) Dengan penggunaan bahasa asing telah menghianati SUMPAH PEMUDA
2) Bahasa yang melambangkan KULTURAL
3) Bahasa adalah ekspresi dari manusia
4) Bahasa merupakan alat pemersatu bangsa

Kesimpulannya bahwa RSBI bertentangan dengan Roh UUD 1945 :

1) Menggunakan benchmark dari negara-negara Industri
2) Tidak mengakui kemerdekaan dan kebudayaan
3) Menggerus nasionalisme dan rasa sosial peserta didik
4) Pemerintah telah keliru terhadap kebudayaan
5) Men of Intellect bukan Men of Cultural -> menjadi manusia yang berkarakter Indonesia

Jadi pendidikan yang seharusnya adalah :

"PENDIDIKAN YANG BERKEBUDAYAAN SERTA BERKARAKTER (MEN OF CULTURAL) DAN SEMUA ANAK INDONESIA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS"










Valentina Palma Sastrodiharjo
Selasa, 15 Mei 2012 Mahkamah Konstitusi

Rabu, 18 April 2012

Potret Pendidikan Tanah Air dan Finlandia

Mengejutkan. Ternyata negara yang paling oke tata kelola pendidikannya bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Jerman. Akan tetapi, kiblat pendidikan dunia saat ini mengarah ke negara Findlandia. Amerika Serikat sendiri berada jauh dibawah level Finlandia, tepatnya di urutan ke-17. Lalu, dimana daya tariknya sistem pendidikan di Finlandia dengan negara-negara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di kemandirian siswa dan gurunya.Di Finlandia kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh guru-gurunya yang begitu dihormati tetapi juga ditularkan kepada para pelajar melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting. Salah satunya dimana setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.

Sistem inilah yang dipertahankan oleh Finlandia hingga akhirnya berhasil mengantarkan negara ini berada pada posisi puncak sebagai negara yang paling berhasil mengelola pendidikan nasionalnya.Fantastiknya, dalam evaluasi belajar, angka ketidak lulusan secara nasional tidak pernah melebihi 2 persen pertahunnya. Finlandia juga tidak mengenal istilah ujian semester apalagi ujian nasional layaknya ditanah air.

Evaluasi belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah sekali pun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Jadi jangan pernah berhayal bahwa guru-guru di Finlandia disibukkan untuk mengejar terget-target tertentu karena di negeri ini guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya dengan kebutuhan setiap pelajar. Jadi, di Finlandia siapa pun presidennya dan menteri pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan pendidikan. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan adalah dukungan finansial dan legalitas. Mau bagaimana caranya, maka gurulah yang berwewenang atas itu karena guru dipandang sebagai sosok yang paling mengerti mau dimana wajah pendidikan Finlandia dibawa dimasa yang akan datang. Sistem ini telah berdampak positif kepada pola cara mengajar guru yang tidak terlalu dipusingkan oleh hiruk pikuknya politik nasional negaranya.

Keseriusan negara Finlandia menyokong keberhasilan pendidikan nasionalnya dibuktikan dengan diterapkannya kebijakan gratis sekolah 12 tahun. Kerenkan? Ada hal menarik lainnya. Bila ditanah air setiap tahun selalu saja ada perubahan guru yang masuk silih berganti tidak demikian halnya di Finlandia. Jangankan berganti bahkan setiap kelas akan diasuh oleh 3 orang guru sekaligus. Dua orang guru bertindak sebagai guru mata pelajaran sedangkan satu orang lagi menjadi pengawas dan pembimbing setiap siswa dalam memahami setiap bidang studi. Jadi, bila di Indonesia belajar 12 tahun berarti mengenal belasan bahkan puluhan guru maka di Finlandia selama 12 tahun setiap kelas hanya dibimbing oleh 3 orang guru.

Gado-gado dong? Ops, tunggu dulu. Guru-guru di Finlandia bukanlah guru asal-asalan yang dipungut ditengah jalan atau otomatis jadi guru karena dekat dengan penguasa. Guru-guru Finlandia adalah lulusan terbaik setiap perguruan tinggi dan mereka harus masuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik. Jika tidak, jangan pernah bermimpi jadi guru di negeri ini. Itulah sebabnya guru-guru di Finlandia betul-betul berdedikasi tinggi. Gajinya besar dong? Tidak. Guru-guru Finlandia justru digaji dengan gaji secukupnya bahkan bisa dikatakan kurang memadai. Tetapi gurunya begitu menikmati profesinya hal ini karena mayoritas masyarakat Finlandia begitu menghormati dan menghargai profesi seorang guru. Bagaimana ditanah air?

Dengan alasan melanggar HAM seorang guru bisa dipidanakan hanya karena menghukum seorang murid yang kebetulan indisipliner. Alasan bahwa setiap anak disekolahkan untuk pintar bukan untuk dianiaya menjadi senjata jitu siapa pun untuk memperkarakan setiap guru. Kalau begini seharusnya setiap orangtua jangan pernah menyekolahkan anaknya kalau etika dan moralnya belum bisa dipertanggungjawabkan karena dalam sistem pendidikan nasional kita, etika moral adalah tanggungjawab orang tua sedangkan pencerdasan adalah tanggungjawab guru. Oleh karena itu salah besar menyalahkan guru bila setiap pelajar tidak beretika karena etika dan moral adalah tanggungjawab orangtua.Jadi, wajarkah kita menyalahkan guru bila diperistiwa tertentu harus bertindak tegas terhadap para pelajar? Bukankah orangtua yang bersangkutan harusnya lebih malu karena jelas-jelas gagal mempersiapkan anaknya lebih bermoral sebelum menempuh pendidikan formalnya.

Ditanah air Indonesia, sebenarnya sistem pendidikan Finlandia telah terterapkan sejak tahun 1961 melalui wadah gerakan pramuka. Apa yang berlaku di Finlandia jelas-jelas merupakan sistem pendidikan yang berlalu di gerakan pramuka. Dimana setiap kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap anggota pramuka, bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di uji.Disamping itu, setiap 32 orang anggota pramuka dibina oleh 3 orang pembina secara terus menerus. Akan tetapi sistem pendidikan kepanduan ditanah air ini tidak mendapat respon yang positif ditanah air. Buktinya kendati berhasil melahirkan kader-kader bangsa yang mandiri, negara ternyata tidak berani mengalokasikan dana BOS yang ada pada setiap sekolah untuk sepersekian persen wajib dipergunakan untuk mengelola gerakan pramuka di gugus depan. Pendidikan nasional kita yang masih sarat dengan kepentingan politik kepala daerah menjadikan potret pendidikan begitu semraut. Pelaksanaan UN yang jelas lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya selalu dipertahankan untuk alasan yang tidak jelas.

Bahkan ironisnya lagi, UN telah mengajarkan bangsa ini bagaimana berlaku curang dan menipu. Gilanya lagi peserta UN dikawal dan diamati setiap detik melalui layar CCTV. Seperti teroriskan. Cara-cara gila ini begitu dibangga-banggakan oleh pemerintah bahkan institusi pendidikan sendiri. Padahal metode ini punya dampak physicologi bagi para pelajar dimana UN benar-benar menjadi beban berat. Jadi jangan heran bila di Nias pada hari pertama UN ada siswa yang meninggal dunia begitu menerima lembar soal ujian.

Finlandia tidak pernah membebani muridnya untuk hal-hal yang kurang bermutu atau mengurangi ke-kreativitasan seorang anak setelah meninggalkan rumah sekolah. Maka, tugas tugas (PR), les tambahan dan bimbingan ini dan itu nyaris tidak pernah ada di Finlandia. Bagaimana dengan tanah air? Tekanan yang begitu berat sangat terasa apalagi menjelang ujian nasional. Setiap murid selalu diberi les tambahan yang berlebihan, pelajar di wajibkan mengikuti Tryout hampir tiap bulan dengan alasan untuk mengukur kemampuan siswa.

Dirumah disuguhi lagi dengan tugas-tugas berat bahkan ada lagi menu les tambahan yang ditawarkan padahal nuansa bisnisnya lebih terasa daripada urgensinya bagi peserta didik. Repot bukan? Alhasil, pelajar tanah air lahir dan besar tanpa pernah mempergunakan otaknya untuk berkreativitas. Generasi muda pun besar penuh dengan tekanan. Jadi jangan heran, walaupun lulus UN 100 persen ternyata persentasi lulus SMPTN berbanding terbalik dengan kelulusan UN.

Inilah setidaknya potret pendidikan kita dewasa ini. Indonesia jatuh kepada tingkat kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Alih-alih untuk mencerdaskan bangsa tetapi cara-cara yang dilakukan justru mengantarkan bangsa ini kelembah kehancuran. Oleh karena itu kita perlu berbenah. Mengembalikan sistem pendidikan kezaman dahulu kala (seperti cerita orangtua kita) dimana setiap anak dan orangtua begitu menghormati guru perlu kita lakukan.

Guru harus diberi otoritas penuh untuk mengatur kurikulumnya sendiri. Setiap anak juga tidak dibebani dengan tugas ini dan itu. Bahkan birokrasi pendidikan kita yang berbelit-belit perlahan-lahan harus dikurangi. Wajib belajar 12 tahun mutlak harus dilakukan tentunya dengan biaya gratis. Tidak hanya itu wajar 12 tahun itu harus dengan satu izajah saja yaitu izajah SMA. Sedangkan untuk SD dan SMP tidak lagi mengeluarkan izajah mengingat tuntutan dunia kerja saat ini pun izajah dua jenjang pendidikan ini tidak begitu diperlukan. Oleh karena itu, perpindahan dari tingkat SD ke SMP cukuplah dengan nilai rapor begitu juga dari SMP ke SMA.

Maka evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia kerja. Menggratiskan pendidikan dinegara ini bukanlah hal yang mustahil. Bukankah 40 persen APBN kita mark-up dan 30 persennya dikorupsi. Jadi andai pengelolaan keuangan negara kita ditata dengan baik maka tidak mustahil dimasa-masa yang akan datang biaya pendidikan kita yang saat ini ditampung 20 persen dalam APBN kedepannya akan meningkat menjadi 50 persen.

Bila sudah demikian, bukankah pendidikan kita sudah bisa digratiskan. Semoga

Sumber : Detik.com

*Penulis adalah ketua umum PB Germasi

Minggu, 15 April 2012

It Is Our Responsibility!


Malam itu serasa membawa kenangan saya pada saat kuliah dulu. Idealisme, diskusi, mematangkan konsep, menjadi satu hal yang tak asing bagi saya ketika masa-masa di kampus hijau saat itu. Tapi pada malam itu saya bukan sedang berkumpul dengan sekelompok orang mahasiswa, namun saya tetap berkumpul dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan militansi yang luar biasa terhadap dunia pendidikan. Pertemuan saya dengan mereka pun bukan suatu hal yang kebetulan, saya yakin ini sudah direncanakan oleh-Nya, hingga kami mempunyai visi misi yang sama dan harapan yang sama atas negeri ini. Ya, mereka lah rekan-rekan yang menjadi barisan pelopor dari gerakan Care for Education (CFE) yang baru 2 bulan saya gelontorkan ke masyarakat luas. Ady Jovial, Zaenmi Arlis, Valentina Plama Sastrodiharjo, Isnur Hikmah dan Hari Nugroho, sekelompok orang yang siap membantu saya mewujudkan hal yang mungkin tidak terlalu besar dan signifikan untuk bisa berkontribusi bagi pendidikan bangsa ini, namun tetap mempunyai impian besar tentang pendidikan yang layak dan lebih baik di negeri ini.

21 Juni 2011, Selasa malam, tepat di depan tugu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah universitas yang banyak melahirkan guru-guru di negeri ini, masih menjadi saksi atas dedikasi rekan-rekan saya ini. Sepulang beraktivitas mereka masih bersedia meluangkan waktu untuk memajukan program CFE. Kami membicarakan berbagai hal yang perlu dipersiapkan untuk menjalankan berbagai program kami. Keasyikan suasana diskusi saat itu, membawa larut diri kami, hingga tak sadar, malam sudah semakin pekat dan kami harus segera pulang untuk berisitirahat dan melanjutkan aktivitas esok harinya. 

MasyaAllah, kembali bukan suatu hal yang kebetulan. Ketika keesokan harinya, saya mendapat berita tentang topik acara regular CSR Widom yang tiap rabu pagi jam 8 saya pandu,  mengangkat topik tentang hak asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan. Tamu-tamu saya yang hadir pada saat itu adalah Wang Wardhana (Head of CB Market Sales Wealth Management, Consumer Banking), Irsan Angkasa (Provisi Education) dan Yanti Koestoer (Indonesia bisnis links). Kami berbincang dan sepakat bahwa persoalan bangsa ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk soal pendidikan. Namun yang perlu dicatat disini adalah, bahwa bukan lantas kemudian pemerintah merasa santai, kemudian soal-soal negeri di limpahkan kepada masyarakat ataupun korporasi, pemerintah tetap mempunyai tanggung jawab yang paling besar untuk menyelesaikan berbagai soal ini. 

Yang menarik adalah, diskusi saya pagi itu dalam program CSR Wisdom bersama ketiga narasumber, menyepakati bahwa, pendidikan bangsa ini masih jauh dari sebuah kelayakan. Pendidikan masih menjadi suatu barang yang mahal bagi sebagian orang, hal ini dalm konteks pendidikan formal. Meski hak mendapatkan pendidikan menjadi milik semua manusia di negeri ini, namun betapa ironi masih banyak dari masyarakat kita yang tidak bisa mengakses pendidikan (formal) dengan layak terlebih bermutu. Ketidakmerataan infrastuktur pendidikan di berbagai daerah semakin membuat pemandangan tak indah pendidikan kita. Beberapa anak-anak tingkat SD di Kaliurang, Yogyakarta, harus bangun pagi jam 4 subuh untuk menempuh jarak ke sekolah mereka. Bisa dibayangkan betapa sudah lelahnya mereka seketika sampai di sekolah untuk belajar. Belum lagi, anak-anak di daerah perbatasan Kalimantan dengan Malaysia, banyak dari mereka yang terancam buta huruf dikarenakan tidak mendapatkan akses pendidikan. Jangankan bicara pendidikan layak dan bermutu, mengakses pendidikan nya pun tidak mereka dapatkan. 

Fenomena lain, berdasarkan penelitian bahwa setiap menitnya 5 anak Indonesia putus sekolah. Coba cek http://kosmo.vivanews.com/news/read/189798--per-menit--lima-anak-putus-sekolah . Bagi saya ini sebuah keprihatinan bersama. Bisa dibayangkan bagaimana Indonesia kedepannya jika memiliki generasi tak berpendidikan. Mendengar dan juga mengetahui fenomena-fenomena tadi, menyulut saya dan rekan-rekan membentuk CFE. Kami tidak berpikir muluk atas terbentuknya CFE, yang kami pikirkan hanyalah bagaimana sesuatu yang kami bentuk ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kami yang masih ingin mengenyam pendidikan. 

Pemerintah mempunyai tanggung jawab besar untuk melakukan reformasi pendidikan di negeri ini, namun begitu saya yakin ini bukanlah menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari bangsa ini. Ini bukanlah persoalan aku dan kamu, namun ini menjadi soal kita. Sebuah film dengan judul “Alangkah lucunya negeri ini” karya Dedi Mizwar dan juga film “Batas” yang dibintangi oleh aktris berbakat Marcella Zalianty, turut menyulut kerangka berpikir saya, bahwa segala persoalan sosial negeri ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Tidak cukup hanya itu perubahan paradigma bahwa dengan berpendidikan, menciptakan manusia-manusia unggul dan cerdas lah yang bisa memutus mata rantai kemiskinan negeri ini.

Saya meyakini bahwa, banyak manusia-manusia di negeri ini yang peduli dengan kemajuan bangsa ini. Hanya saja bagaimana caranya keprihatinan dan kepedulian tersebut tidak menjadi mandul tanpa implementasi. Melakukan apa yang bisa dilakukan saat ini juga meskipun kecil, jauh lebih berarti, daripada tidak melakukan sama sekali. Memang pendidikan pun bisa didapatkan secara informal, namun tetap pendidikan formal juga mesti diperhatikan. Bangsa-bangsa yang besar adalah bangsa yang manusia didalamnya maju secara intelektual. Tapi satu hal yang perlu diingat, cerdas intelektual saja tidak cukup, kecerdasan seseorang akan semakin paripurna jika dilengkapi dengan kecerdasan emosional dan juga spiritual. Semoga sekilas tulisan yang masih jauh dari sempurna ini, bisa sedikit menyulut pikiran sahabat semua untuk bersama-sama melakukan sesuatu dan peduli pendidikan di negeri ini. Ingat, Education is not just government responsibilities but it is OUR responsibility.