Care for Education
Kamis, 19 September 2013
Riri Artakusuma & Care for Education (Sekolah kolong Pelangi)
Ini adalah video tentang Care for Education saat diliput oleh Net Tv
Riri Artakusuma & Care for Education
Silakan Klik DISINI untuk melihat video tentang Care for Education.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Kalam CfE
Care For Education hanyalah sebuah nama,
sebuah nama tentang gerakan pendidikan. Sebuah nama yang selalu kita
kembalikan kepada tatanan makna yang sebenarnya, bukan sebuah nama yang
mulai trend dengan pergeseran makna hakekatnya, seperti yang telah terjadi
dalam tatanan peradaban modern, peradaban modern yang ternyata hanyalah
sebuah plagiatisme semata, Negara yang nyatanya hanyalah sebuah sistem
perusahaan, kepemimpinan, yang nyatanya hanyalah sebuah paradoks mencari
upeti dan menjadi buruh dinegeri sendiri, institusi pendidikan yang
sekarang malah menjadi sebuah industri dengan profit tinggi, kemanusiaan
yang dijunjung tinggi menyisakan sebuah elegi negeri yang tak tau diri,
ketuhanan,dengan nama tuhan yang mulai disejajarkan dengan
ketenaran, padahal tuhan itu bukan artis.
Latihan dasar kepemimpinan menjadi ajang pencarian bakat para pemimpin- pemimpin instan dengan segala embel-embel gelar dan sertifikatnya, padahal mie instan-pun perlu proses untuk dapat disajikan. Dan ini adalah sebuah gerakan kecil dari hal yang paling kecil yaitu "kepedulian", dari hal yang paling dasar untuk mengangkat derajat seseorang yaitu "pendidikan". karena ini adalah sebuah gerakan peduli pendidikan maka siapapun dia yang ada didalam gerakan ini akan selalu meniadakan dirinya, Riri Artakusuma yang akan selalu menjadi Riri seutuhnya tak perlu menggembar-gemborkan siapa diri dibalik nama Riri Artakusuma, Valentina Palma, dia akan selalu menjadi Valent yang selalu siap dalam kondisi apapun untuk melancarkan gerakan ini dan Zaenmi Arlis yang dalam keheningannya akan selalu mendukung apapun keputusan untuk operasional CfE, kemudian satu hal yang membuat suatu kegaguman adalah para relawan lainnya, padahal mereka belum tahu benar visi dan misi dari gerakan ini. Akan tetapi mereka tahu ini sebuah gerakan peduli pendidikan dan mereka tahu makna hakekat gerakan ini, ini bukti sebuah ketulusan. Ada atau tidaknya para perintis gerakan ini bukanlah sebuah alasan untuk kelangsungan gerakan ini.
Latihan dasar kepemimpinan menjadi ajang pencarian bakat para pemimpin- pemimpin instan dengan segala embel-embel gelar dan sertifikatnya, padahal mie instan-pun perlu proses untuk dapat disajikan. Dan ini adalah sebuah gerakan kecil dari hal yang paling kecil yaitu "kepedulian", dari hal yang paling dasar untuk mengangkat derajat seseorang yaitu "pendidikan". karena ini adalah sebuah gerakan peduli pendidikan maka siapapun dia yang ada didalam gerakan ini akan selalu meniadakan dirinya, Riri Artakusuma yang akan selalu menjadi Riri seutuhnya tak perlu menggembar-gemborkan siapa diri dibalik nama Riri Artakusuma, Valentina Palma, dia akan selalu menjadi Valent yang selalu siap dalam kondisi apapun untuk melancarkan gerakan ini dan Zaenmi Arlis yang dalam keheningannya akan selalu mendukung apapun keputusan untuk operasional CfE, kemudian satu hal yang membuat suatu kegaguman adalah para relawan lainnya, padahal mereka belum tahu benar visi dan misi dari gerakan ini. Akan tetapi mereka tahu ini sebuah gerakan peduli pendidikan dan mereka tahu makna hakekat gerakan ini, ini bukti sebuah ketulusan. Ada atau tidaknya para perintis gerakan ini bukanlah sebuah alasan untuk kelangsungan gerakan ini.
Kepedulian terhadap pendidikan bukan hanya di ranah akademik yang lebih
sering menyisakan intrik. Ada sebuah kewajiban dari orang yang merasa
terdidik untuk mendidik orang lain yang belum terdidik agar mereka
mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang dapat mengembalikan mereka, kembali kepada
fitrahnya sebagai manusia yang menuhankan Tuhan bukan ketuhanan.
"Karena pendidikan adalah mata uang paling laku di seluruh negeri dimuka bumi ini"
Minggu, 27 Mei 2012
Jangan Biarkan Lilin itu Padam : Refleksi 1 tahun Care for Education (CFE)
“Boleh aja kalau
mau buat sekolah disini, itu tuh tempatnya deket pos lapak didepan sana..” Jawab salah satu preman di kawasan pemulung ,
Rawamangun. Terik matahari yang begitu
menyengat tidak mematahkan semangat sekelompok anak muda yang mempunyai misi yang
sama yaitu berbuat sesuatu untuk membantu pendidikan negeri ini. Saat ini
sekelompok anak muda tadi lebih dikenal dengan
team CFE (Care for Education). Tak muluk-muluk saat itu harapan team CFE,
kami hanya ingin berbuat sesuatu, mengajar anak-anak yang kurang mampu dan
anak-anak jalanan yang terpinggirkan dari pendidikan, itu saja. Ya hanya itu saja yang ada dipikiran kami saat itu.
Sepetak ruang
kecil, nampak kotor, bau dan sangat tak terurus. Itulah ruang yang nantinya
digunakan untuk tempat bermain dan belajar. Dengan itikad dan semangat penuh,
sekelompok anak muda tadi membereskan sekaligus membersihkan ruangan. Kondisi
yang kotor dan kumuh memang sudah menjadi pemandangan biasa disekitar area
tempat kami mendirikan kelas belajar. Hampir tidak ada area yang cukup bersih
dan representatif untuk menjadikan kelas belajar, namun alhamdulillah berkat
kerjasama kami bisa membuat satu kelas yang sederhana namun cukup baik untuk
bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Namun begitu tetap saja di awal, ketika cuaca panas menyengat, ruang belajar yang disediakan menjadi sangat tidak
nyaman. Saya masih ingat betul bagaimana ruang belajar kami yang beratap asbes, membuat kondisi semakin panas ditengah cuaca panas dan anak-anak yang belajar tak betah berlama-lama
di dalam kelas, mereka memilih keluar dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun.
Hari demi hari kami
lalui dengan segala tantangannya. Mulai dari area belajar yang jauh dari
representatif, alat-alat belajar seadanya yang terkadang tak cukup untuk
mengcover jumlah anak-anak yang belajar. Satu meja tulis bisa digunakan untuk 3
anak, yang semestinya hanya untuk 2 orang anak, sampai dengan alas belajar
dengan terpal bekas. Belum lagi beberapa volunteer yang silih berganti. Ya, memang segala sesautunya akan teruji dengan sendirinya. Namun tetap bersyukur, tim perintis CFE tetap berdiri tegak sampai saat ini, dan inshaAllah selamanya. Tapi tantangan tidak hanya sampai disitu, ketidakpedulian orang tua dari anak-anak yang
bermain dan belajar bersama kami pun menjadi pelengkap tantangan kami untuk
terus konsisten mengajar sambil bersabar mereka mau ikut melihat dan menemani
anak-anaknya belajar bersama kami. Tak terasa memang, tidak sampai 6 bulan CFE
berjalan, anak-anak semakin menjadi sahabat yang selalu merindukan dan
dirindukan CFE. Orang tua semakin aktif untuk bekerjasama dengan kami,
mendorong anak-anak untuk belajar. Tak lain memang itu semua buah dari
kesabaran.
Tak cukup rasanya
tantangan sampai disitu. Desember 2011, kondisi yang paling tidak kami harapkan
terjadi. Area pemberdayaan kami untuk mengajar digusur. Sebagian alat-alat
belajar tak sempat kami selamatkan. Untunglah masih ada barang-barang lain pendukung
belajar tidak semua kami taruh di kelas. Namun begitu, setelah kejadian
tersebut kami tidak pupus untuk terus mengajar. Belajar pun bukan lagi
hambatan. Kami memutuskan untuk meneruskan kegiatan bermain dan belajar di
bawah fly over bypass Rawamangun. Sungguh miris mengetahui sekaligus menjalani
kondisi ini. Kesenjangan sudah nampak terlihat. Bagaimana sekolah-sekolah lain
dengan begitu nyamannya mengadakan proses belajar-mengajar,disisi lain kami
mesti berjuang untuk terus mengajar ditengah kondisi debu, polusi kendaraan,
prasarana yang minim dan seadanya.
Tidak ada kata
menyerah. Itulah yang tetap saya lihat, semangat dari sahabat-sahabat sekaligus
team CFE. Semua tetap bahu-membahu menebarkan semangat satu sama lain untuk
terus berjuang memberikan pendidikan kepada anak-anak terpinggirkan. Dedikasi
mereka tak diragukan. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa,
namun bagi saya yang melihat langsung apa yang mereka kerjakan dan bagaimana
kontribusi mereka sekaligus merasakan sendiri tantangan-tantangan yang
dihadapi, karenanya bagi saya mereka (sahabat sekaligus team CFE) adalah insan
luar biasa. Bukan hanya itu saja, mereka pun konsisten tetap semangat
menjalankan misi CFE ini, dengan kondisi seadanya, tak berbayar. Mereka dengan
sukarela melakukan semua. Meski mereka bekerja, kuliah dan dalam kondisi
ekonomi yang biasa saja, tapi mereka mempunyai konsistensi yang begitu luar
biasa. Salute!
Dedikasi dan
konsistensi semakin terlihat ketika kondisi sekolah kami tergusur, sahabat team
CFE dengan sabar satu persatu, mencari adik-adik kami yang akhirnya terpencar
entah kemana. Sebagian dari mereka yang belajar sebelumnya bersama kami sempat
tak ada, dan entah dimana. Mereka berusaha menelusuri dimana jejak keluarga
adik-adik yang belajar bersama kami. Sungguh bukan hal yang mengenakan, namun
karena satu semanagat dan tekad yang sama, alhamdulillah kami bisa kembali
menemukan dimana adik-adik kami berada. Akhirnya kami kembali mencari tempat
baru kembali untuk belajar, dan kembali kami menerima tantangan, kami diusir.
Memang tak ada
konsistensi yang tanpa uji. Pengusiran kami dari tempat yang baru kami buat,
tak menyusutkan niat kami untuk tetap mencari tempat baru dan lebih layak bagi
adik-adik untuk belajar. Alhamdulillah, ikhtiar berbuah hasil. Seorang sahabat
baru yang akhirnya menjadi team CFE, memberikan kesempatan kepada CFE untuk
menggunakan tempat yang di kontraknya untuk menjadi tempat belajar adik-adik
sekolah pelangi saat ini. Seiring kesabaran, disertai ucapan alhamdulillah
untuk kesekian kalinya, saat ini kami bisa kembali mengajar dengan tempat yang
layak dari sebelumnya, dan adik-adik di sekolah yang kami beri nama sekolah
pelangi terus bertambah. Orang tua pun tak sungkan kadang menemani anak-anak
mereka belajar hingga jam bermain dan belajar selesai.
Saat ini ikhtiar
CFE terus berkembang, dan alhamdulillah telah melewati satu tahun perjalanannya.
Sungguh masih belum apa-apa. Namun betapa saya bersyukur di usianya yang baru 1
tahun CFE telah mampu menjalankan 3 program utamanya secara konsisten. Teaching
for Child, Gerakan seribu rupiah untuk sekolah dan Sahabat asuh, dan masih
satu PR yang belum bisa dijalankan secara konsisten adalah program smart
parenting. Implementasi program Teaching for Child kami lakukan dengan
mengadakan pengajaran setiap Sabtu-Minggu di daerah pemberdayaan kami Jl. Pemuda Raya,
Rawamangun. Sedangkan Gerakan Seribu Rupiah untuk Sekolah, terus terlaksana
dengan adanya soasialiasi mengenai CFE ke berbergai undangan seminar maupun
kampus dan mengajak mereka semua untuk melakukan gerakan peduli seribu rupiah
untuk sekolah tersebut. Dan untuk program sahabat asuh sendiri, CFE telah
memfasilitasi beasiswa bagi 10 siswa SD, 3 SMP, 4 SMK dan 2 Universitas. Fasilitas
beasiswa itu semua tak’an ada tanpa bantuan 5 orang donatur sahabat asuh kami.
Sekali lagi, alhamdulillah.
Kami sadar ini
belum seberapa. Masih banyak lagi yang menjadi PR CFE kedepannya dengan satu
paket tantangannya. Namun begitu kami hanya berharap semoga Tuhan YME terus
memberikan kesehatan dan kekuatan terhadap kami semua untuk bisa lebih maksimal
lagi membantu pendidikan negeri di kemudian hari. Program berikutnya yang
segera akan kami jalankan adalah “Benahi sekolahku” dan “1 juta untuk guru”.
Semoga ini semua bisa bermanfaat. Hanya itu harapan kami.
Dalam kesempatan
ini pula, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat
sekaligus team hebat :
- Valentina Palma Sastrodiharjo : You are so AWESOME, dear!!
- Ady Jovial : Terima kasih atas segala sabar dan telah menjadi pendukung yang tak kalah luar biasa!!
- Zaenmi Arlis : Salute dengan dedikasi mu!
- Alif : Bu Guru yang sabar, terima kasih telah gabung berjuang bersama CFE!
- Anty : Kamu bukan team yang biasa. Kamu luar biasa!
- Isnur : Thank you, telah bersedia menjadi pengurus keuangan kami yang amanah.
Dan bagi para
mentor kami yang sungguh luar biasa, Prasetya M. Brata dan Melly Kiong, Terima
kasih telah menjadi mentor sekaligus Guru yang luar biasa. Tidak lupa kepada seluruh donator dan sahabat asuh, semoga Tuhan beri
keberkahan dan sukses untuk Anda semua.
Semoga tulisan ini
bisa menjadi penyulut bagi sahabat-sahabat ku yang lain untuk melakukan hal
yang sama atau bahkan lebih, demi
membantu pendidikan negeri ini. Sekedar mengingatkan, bahwa pendidikan negeri
ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan!
“Adalah tugas
mereka yang terdidik untuk kembali mendidik mereka-mereka yang belum terdidik”
-Anies Baswedan-
Riri Artakusuma
Ciputat, 27 Mei
2012
Rabu, 16 Mei 2012
Dilema Status RSBI di Sekolah-Sekolah Negeri
Ketika
aku mendapatkan SMS dari seorang sahabat bernama Dhitta Puti Sarasvati
mengenai "Sidang RSBI"di Mahkamah Konstitusi aku ingin sekali untuk
menghadiri sidang tersebut yang ternyata itu sidang terakhir. Dengan
penuh semangat aku membawa motor dan tancap gas ke Mahkamah Konstitusi
yang terletak di depan Monas - ya walaupun sedikit terlambat, menurutku
tak apalah. Karena di lantai 2 sudah penuh akupun bergegas menggunakan
tangga untuk ke lantai 3.
Beberapa saksi sudah mengutarakan
pendapatnya di muka sidang, salah satunya sekolah SMP 1 Lumajang yang
RSBI. Ada beberapa point yang saya dengar dan catat yaitu :
2) Penggunaan Bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (sangat dijunjung)
3) Pemilihan guru juga ditentukan bersama > Ditegaskan bahwa semua guru mempunyai potensi yang sama
4) Gamelan IT > Sebagai Mascot program
Menurut Musni Umar Ph.D (Ketua Komite SMA 70 RSBI tahun 2009 - 2011)
Sekolah unggulan plus ditempelkan embel-embel RSBI (Rintisan Sekolah
Bertaraf International), bahwasanya pendidikan itu untuk semua
(Education for all). Namun kenyataannya adanya RSBI menimbulkan tidak adanya unsur pemerataan pendidikan. Mengapa dikatakan demikian :
2) Terbagi menjadi Kelas REGULER > SDDB Rp. 11.200.000
> Sumbangan Rutin Rp. 425.00
Kelas CIB (Akselarasi) > SDDB 11.200.000
> Sumbangan rutin 1.000.000
Kelas International > I : 31.000.000
> II : 24.000.000
> III : 18.000.000
Dalam
Pancasila tertuang sila ke 5 "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT
INDONESIA. Pernyataan ini semakin tidak sinkron dan menjadi tidak adil karena hanya mereka yang kaya
saja yang bisa bersekolah di RSBI ini - menurut Pak Musni disinilah
letak ketidakadilan :
1) Ketidakadilan antar siswa yang kaya dan yang miskin
2) Ketidakadilan antar kepala sekolah dan guru > dimana harus membayar THR ke Kepala Sekolah juga
3) Ketidakadilan antar sekolah
4)
Ketidakadilan dengan orang tua siswa > seharusnya menjadi subsidi
pemerintah sebesar 15 M, tetapi sebesar 10,3 M (harus ditanggung oleh
Orang tua murid) dan 4,7 M ( Pemerintah).
Untuk Mewujudkan sekolah yang berkualitas internasional tidak harus menggunakan nama RSBI. Buktinya :
2) KRISTEN PENABUR
3) LAB SCHOOL KEBAYORAN BARU
*** Di Kelas International di sekolah SMA RSBI favorit ternama di kawasan
Jakarta Selatan pada tahun 2010 ada 2 siswi yang tdak lulus ujian
nasional. Sebenarnya untuk bisa masuk ke beberapa Universitas Unggulan
seperti ITB tidak ada kaitannya dengan RSBI.
*** RSBI > Sekolah diatas sekolah bahwa untuk dapat menerima raport harus membayar
Sekarang Menurut Staf Ahli Pendidikan,menghadirkan
1) Daoed Joesoef
2) Prof. Tilaar
Menurut
Daoed Joesoef, RSBI tidak sesuai dengan konstitusi > dengan TEGAS
SANGAT MENENTANG dan secepatnya harus dibubarkan RSBI. Dengan alasan :
2) Bahasa yang melambangkan KULTURAL
3) Bahasa adalah ekspresi dari manusia
4) Bahasa merupakan alat pemersatu bangsa
Kesimpulannya bahwa RSBI bertentangan dengan Roh UUD 1945 :
1) Menggunakan benchmark dari negara-negara Industri
2) Tidak mengakui kemerdekaan dan kebudayaan
3) Menggerus nasionalisme dan rasa sosial peserta didik
4) Pemerintah telah keliru terhadap kebudayaan
5) Men of Intellect bukan Men of Cultural -> menjadi manusia yang berkarakter Indonesia
Jadi pendidikan yang seharusnya adalah :
"PENDIDIKAN YANG BERKEBUDAYAAN SERTA BERKARAKTER (MEN OF CULTURAL) DAN SEMUA ANAK INDONESIA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS"

Valentina Palma Sastrodiharjo
Selasa, 15 Mei 2012 Mahkamah Konstitusi
Rabu, 18 April 2012
Potret Pendidikan Tanah Air dan Finlandia
Mengejutkan. Ternyata negara yang paling oke tata kelola
pendidikannya bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Jerman. Akan
tetapi, kiblat pendidikan dunia saat ini mengarah ke negara Findlandia. Amerika
Serikat sendiri berada jauh dibawah level Finlandia, tepatnya di urutan
ke-17. Lalu, dimana daya tariknya sistem pendidikan di Finlandia dengan
negara-negara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di
kemandirian siswa dan gurunya.Di Finlandia kemandirian dalam
mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh
guru-gurunya yang begitu dihormati tetapi juga ditularkan kepada para
pelajar melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting. Salah
satunya dimana setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan
jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.
Sistem
inilah yang dipertahankan oleh Finlandia hingga akhirnya berhasil
mengantarkan negara ini berada pada posisi puncak sebagai negara yang
paling berhasil mengelola pendidikan nasionalnya.Fantastiknya,
dalam evaluasi belajar, angka ketidak lulusan secara nasional tidak
pernah melebihi 2 persen pertahunnya. Finlandia juga tidak mengenal
istilah ujian semester apalagi ujian nasional layaknya ditanah air.
Evaluasi
belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah
sekali pun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk
menyusun kurikulumnya sendiri. Jadi jangan pernah berhayal bahwa
guru-guru di Finlandia disibukkan untuk mengejar terget-target tertentu
karena di negeri ini guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya dengan
kebutuhan setiap pelajar. Jadi, di Finlandia siapa pun
presidennya dan menteri pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan
terhadap masa depan pendidikan. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan
sektor pendidikan adalah dukungan finansial dan legalitas. Mau
bagaimana caranya, maka gurulah yang berwewenang atas itu karena guru
dipandang sebagai sosok yang paling mengerti mau dimana wajah pendidikan
Finlandia dibawa dimasa yang akan datang. Sistem ini telah
berdampak positif kepada pola cara mengajar guru yang tidak terlalu
dipusingkan oleh hiruk pikuknya politik nasional negaranya.
Keseriusan negara Finlandia menyokong keberhasilan pendidikan nasionalnya dibuktikan dengan diterapkannya kebijakan gratis sekolah 12 tahun. Kerenkan? Ada hal menarik lainnya. Bila ditanah air setiap tahun selalu saja ada perubahan guru yang masuk silih berganti tidak demikian halnya di Finlandia. Jangankan berganti bahkan setiap kelas akan diasuh oleh 3 orang guru sekaligus. Dua orang guru bertindak sebagai guru mata pelajaran sedangkan satu orang lagi menjadi pengawas dan pembimbing setiap siswa dalam memahami setiap bidang studi. Jadi, bila di Indonesia belajar 12 tahun berarti mengenal belasan bahkan puluhan guru maka di Finlandia selama 12 tahun setiap kelas hanya dibimbing oleh 3 orang guru.
Gado-gado dong? Ops, tunggu dulu.
Guru-guru di Finlandia bukanlah guru asal-asalan yang dipungut ditengah
jalan atau otomatis jadi guru karena dekat dengan penguasa. Guru-guru
Finlandia adalah lulusan terbaik setiap perguruan tinggi dan mereka
harus masuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik. Jika tidak, jangan
pernah bermimpi jadi guru di negeri ini. Itulah sebabnya
guru-guru di Finlandia betul-betul berdedikasi tinggi. Gajinya besar
dong? Tidak. Guru-guru Finlandia justru digaji dengan gaji secukupnya
bahkan bisa dikatakan kurang memadai. Tetapi gurunya begitu
menikmati profesinya hal ini karena mayoritas masyarakat Finlandia
begitu menghormati dan menghargai profesi seorang guru. Bagaimana
ditanah air?
Dengan alasan melanggar HAM seorang guru bisa
dipidanakan hanya karena menghukum seorang murid yang kebetulan
indisipliner. Alasan bahwa setiap anak disekolahkan untuk pintar bukan
untuk dianiaya menjadi senjata jitu siapa pun untuk memperkarakan setiap
guru. Kalau begini seharusnya setiap orangtua jangan pernah
menyekolahkan anaknya kalau etika dan moralnya belum bisa
dipertanggungjawabkan karena dalam sistem pendidikan nasional kita,
etika moral adalah tanggungjawab orang tua sedangkan pencerdasan adalah
tanggungjawab guru. Oleh karena itu salah besar menyalahkan guru
bila setiap pelajar tidak beretika karena etika dan moral adalah
tanggungjawab orangtua.Jadi, wajarkah kita menyalahkan guru bila diperistiwa tertentu harus bertindak tegas terhadap para pelajar? Bukankah
orangtua yang bersangkutan harusnya lebih malu karena jelas-jelas gagal
mempersiapkan anaknya lebih bermoral sebelum menempuh pendidikan
formalnya.
Ditanah air Indonesia, sebenarnya sistem pendidikan
Finlandia telah terterapkan sejak tahun 1961 melalui wadah gerakan
pramuka. Apa yang berlaku di Finlandia jelas-jelas merupakan sistem
pendidikan yang berlalu di gerakan pramuka. Dimana setiap
kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap
anggota pramuka, bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di
uji.Disamping itu, setiap 32 orang anggota pramuka dibina oleh 3
orang pembina secara terus menerus. Akan tetapi sistem pendidikan
kepanduan ditanah air ini tidak mendapat respon yang positif ditanah
air. Buktinya kendati berhasil melahirkan kader-kader bangsa yang
mandiri, negara ternyata tidak berani mengalokasikan dana BOS yang ada
pada setiap sekolah untuk sepersekian persen wajib dipergunakan untuk
mengelola gerakan pramuka di gugus depan. Pendidikan nasional
kita yang masih sarat dengan kepentingan politik kepala daerah
menjadikan potret pendidikan begitu semraut. Pelaksanaan UN yang jelas
lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya selalu dipertahankan untuk
alasan yang tidak jelas.
Bahkan ironisnya lagi, UN telah
mengajarkan bangsa ini bagaimana berlaku curang dan menipu. Gilanya lagi
peserta UN dikawal dan diamati setiap detik melalui layar CCTV. Seperti
teroriskan. Cara-cara gila ini begitu dibangga-banggakan oleh
pemerintah bahkan institusi pendidikan sendiri. Padahal metode ini punya
dampak physicologi bagi para pelajar dimana UN benar-benar menjadi
beban berat. Jadi jangan heran bila di Nias pada hari pertama UN ada siswa yang meninggal dunia begitu menerima lembar soal ujian.
Finlandia
tidak pernah membebani muridnya untuk hal-hal yang kurang bermutu atau
mengurangi ke-kreativitasan seorang anak setelah meninggalkan rumah
sekolah. Maka, tugas tugas (PR), les tambahan dan bimbingan ini
dan itu nyaris tidak pernah ada di Finlandia. Bagaimana dengan tanah
air? Tekanan yang begitu berat sangat terasa apalagi menjelang ujian
nasional. Setiap murid selalu diberi les tambahan yang
berlebihan, pelajar di wajibkan mengikuti Tryout hampir tiap bulan
dengan alasan untuk mengukur kemampuan siswa.
Dirumah disuguhi
lagi dengan tugas-tugas berat bahkan ada lagi menu les tambahan yang
ditawarkan padahal nuansa bisnisnya lebih terasa daripada urgensinya
bagi peserta didik. Repot bukan? Alhasil, pelajar tanah air lahir
dan besar tanpa pernah mempergunakan otaknya untuk berkreativitas.
Generasi muda pun besar penuh dengan tekanan. Jadi jangan heran,
walaupun lulus UN 100 persen ternyata persentasi lulus SMPTN berbanding
terbalik dengan kelulusan UN.
Inilah setidaknya potret pendidikan kita dewasa ini. Indonesia jatuh kepada tingkat kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Alih-alih untuk mencerdaskan bangsa tetapi cara-cara yang dilakukan justru mengantarkan bangsa ini kelembah kehancuran. Oleh karena itu kita perlu berbenah. Mengembalikan sistem pendidikan kezaman dahulu kala (seperti cerita orangtua kita) dimana setiap anak dan orangtua begitu menghormati guru perlu kita lakukan.
Inilah setidaknya potret pendidikan kita dewasa ini. Indonesia jatuh kepada tingkat kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Alih-alih untuk mencerdaskan bangsa tetapi cara-cara yang dilakukan justru mengantarkan bangsa ini kelembah kehancuran. Oleh karena itu kita perlu berbenah. Mengembalikan sistem pendidikan kezaman dahulu kala (seperti cerita orangtua kita) dimana setiap anak dan orangtua begitu menghormati guru perlu kita lakukan.
Guru harus
diberi otoritas penuh untuk mengatur kurikulumnya sendiri. Setiap anak
juga tidak dibebani dengan tugas ini dan itu. Bahkan birokrasi
pendidikan kita yang berbelit-belit perlahan-lahan harus dikurangi. Wajib
belajar 12 tahun mutlak harus dilakukan tentunya dengan biaya gratis.
Tidak hanya itu wajar 12 tahun itu harus dengan satu izajah saja yaitu
izajah SMA. Sedangkan untuk SD dan SMP tidak lagi mengeluarkan
izajah mengingat tuntutan dunia kerja saat ini pun izajah dua jenjang
pendidikan ini tidak begitu diperlukan. Oleh karena itu, perpindahan dari tingkat SD ke SMP cukuplah dengan nilai rapor begitu juga dari SMP ke SMA.
Maka
evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika
yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia
kerja. Menggratiskan pendidikan dinegara ini bukanlah hal yang
mustahil. Bukankah 40 persen APBN kita mark-up dan 30 persennya
dikorupsi. Jadi andai pengelolaan keuangan negara kita ditata
dengan baik maka tidak mustahil dimasa-masa yang akan datang biaya
pendidikan kita yang saat ini ditampung 20 persen dalam APBN kedepannya
akan meningkat menjadi 50 persen.
Bila sudah demikian, bukankah pendidikan kita sudah bisa digratiskan. Semoga
*Penulis adalah ketua umum PB Germasi
Minggu, 15 April 2012
It Is Our Responsibility!
Malam itu serasa
membawa kenangan saya pada saat kuliah dulu. Idealisme, diskusi, mematangkan
konsep, menjadi satu hal yang tak asing bagi saya ketika masa-masa di kampus
hijau saat itu. Tapi pada malam itu saya bukan sedang berkumpul dengan
sekelompok orang mahasiswa, namun saya tetap berkumpul dengan orang-orang yang
memiliki idealisme dan militansi yang luar biasa terhadap dunia pendidikan.
Pertemuan saya dengan mereka pun bukan suatu hal yang kebetulan, saya yakin ini
sudah direncanakan oleh-Nya, hingga kami mempunyai visi misi yang sama dan
harapan yang sama atas negeri ini. Ya, mereka lah rekan-rekan yang menjadi
barisan pelopor dari gerakan Care for Education (CFE) yang baru 2 bulan saya
gelontorkan ke masyarakat luas. Ady Jovial, Zaenmi Arlis, Valentina Plama
Sastrodiharjo, Isnur Hikmah dan Hari Nugroho, sekelompok orang yang siap
membantu saya mewujudkan hal yang mungkin tidak terlalu besar dan signifikan
untuk bisa berkontribusi bagi pendidikan bangsa ini, namun tetap mempunyai
impian besar tentang pendidikan yang layak dan lebih baik di negeri ini.
21 Juni 2011, Selasa
malam, tepat di depan tugu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah universitas
yang banyak melahirkan guru-guru di negeri ini, masih menjadi saksi atas
dedikasi rekan-rekan saya ini. Sepulang beraktivitas mereka masih bersedia
meluangkan waktu untuk memajukan program CFE. Kami membicarakan berbagai hal
yang perlu dipersiapkan untuk menjalankan berbagai program kami. Keasyikan
suasana diskusi saat itu, membawa larut diri kami, hingga tak sadar, malam
sudah semakin pekat dan kami harus segera pulang untuk berisitirahat dan
melanjutkan aktivitas esok harinya.
MasyaAllah, kembali
bukan suatu hal yang kebetulan. Ketika keesokan harinya, saya mendapat berita
tentang topik acara regular CSR Widom yang tiap rabu pagi jam 8 saya
pandu, mengangkat topik tentang hak
asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan. Tamu-tamu saya yang hadir pada saat
itu adalah Wang Wardhana (Head of CB Market Sales Wealth Management, Consumer
Banking), Irsan Angkasa (Provisi Education) dan Yanti Koestoer (Indonesia
bisnis links). Kami berbincang dan sepakat bahwa persoalan bangsa ini bukan
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat,
termasuk soal pendidikan. Namun yang perlu dicatat disini adalah, bahwa bukan
lantas kemudian pemerintah merasa santai, kemudian soal-soal negeri di
limpahkan kepada masyarakat ataupun korporasi, pemerintah tetap mempunyai
tanggung jawab yang paling besar untuk menyelesaikan berbagai soal ini.
Yang menarik adalah,
diskusi saya pagi itu dalam program CSR Wisdom bersama ketiga narasumber,
menyepakati bahwa, pendidikan bangsa ini masih jauh dari sebuah kelayakan.
Pendidikan masih menjadi suatu barang yang mahal bagi sebagian orang, hal ini
dalm konteks pendidikan formal. Meski hak mendapatkan pendidikan menjadi milik
semua manusia di negeri ini, namun betapa ironi masih banyak dari masyarakat
kita yang tidak bisa mengakses pendidikan (formal) dengan layak terlebih
bermutu. Ketidakmerataan infrastuktur pendidikan di berbagai daerah semakin
membuat pemandangan tak indah pendidikan kita. Beberapa anak-anak tingkat SD di
Kaliurang, Yogyakarta, harus bangun pagi jam 4 subuh untuk menempuh jarak ke
sekolah mereka. Bisa dibayangkan betapa sudah lelahnya mereka seketika sampai
di sekolah untuk belajar. Belum lagi, anak-anak di daerah perbatasan Kalimantan
dengan Malaysia, banyak dari mereka yang terancam buta huruf dikarenakan tidak
mendapatkan akses pendidikan. Jangankan bicara pendidikan layak dan bermutu,
mengakses pendidikan nya pun tidak mereka dapatkan.
Fenomena lain,
berdasarkan penelitian bahwa setiap menitnya 5 anak Indonesia putus sekolah.
Coba cek http://kosmo.vivanews.com/news/read/189798--per-menit--lima-anak-putus-sekolah
. Bagi saya ini sebuah keprihatinan bersama. Bisa
dibayangkan bagaimana Indonesia kedepannya jika memiliki generasi tak
berpendidikan. Mendengar dan juga mengetahui fenomena-fenomena tadi, menyulut
saya dan rekan-rekan membentuk CFE. Kami tidak berpikir muluk atas terbentuknya
CFE, yang kami pikirkan hanyalah bagaimana sesuatu yang kami bentuk ini dapat
bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kami yang masih ingin mengenyam
pendidikan.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab besar untuk melakukan reformasi
pendidikan di negeri ini, namun begitu saya yakin ini bukanlah menjadi tanggung
jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab kita bersama sebagai bagian
dari bangsa ini. Ini bukanlah persoalan aku dan kamu, namun ini menjadi soal
kita. Sebuah film dengan judul “Alangkah
lucunya negeri ini” karya Dedi Mizwar dan juga film “Batas” yang dibintangi oleh aktris berbakat Marcella Zalianty,
turut menyulut kerangka berpikir saya, bahwa segala persoalan sosial negeri ini
menjadi tanggung jawab kita bersama. Tidak cukup hanya itu perubahan paradigma
bahwa dengan berpendidikan, menciptakan manusia-manusia unggul dan cerdas lah
yang bisa memutus mata rantai kemiskinan negeri ini.
Saya meyakini bahwa, banyak manusia-manusia di negeri ini yang peduli
dengan kemajuan bangsa ini. Hanya saja bagaimana caranya keprihatinan dan
kepedulian tersebut tidak menjadi mandul tanpa implementasi. Melakukan apa yang
bisa dilakukan saat ini juga meskipun kecil, jauh lebih berarti, daripada tidak
melakukan sama sekali. Memang pendidikan pun bisa didapatkan secara informal,
namun tetap pendidikan formal juga mesti diperhatikan. Bangsa-bangsa yang besar
adalah bangsa yang manusia didalamnya maju secara intelektual. Tapi satu hal
yang perlu diingat, cerdas intelektual saja tidak cukup, kecerdasan seseorang
akan semakin paripurna jika dilengkapi dengan kecerdasan emosional dan juga
spiritual. Semoga sekilas tulisan yang masih jauh dari sempurna ini, bisa
sedikit menyulut pikiran sahabat semua untuk bersama-sama melakukan sesuatu dan
peduli pendidikan di negeri ini. Ingat, Education
is not just government responsibilities but it is OUR responsibility.
Langganan:
Komentar (Atom)

