Minggu, 15 April 2012

It Is Our Responsibility!


Malam itu serasa membawa kenangan saya pada saat kuliah dulu. Idealisme, diskusi, mematangkan konsep, menjadi satu hal yang tak asing bagi saya ketika masa-masa di kampus hijau saat itu. Tapi pada malam itu saya bukan sedang berkumpul dengan sekelompok orang mahasiswa, namun saya tetap berkumpul dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan militansi yang luar biasa terhadap dunia pendidikan. Pertemuan saya dengan mereka pun bukan suatu hal yang kebetulan, saya yakin ini sudah direncanakan oleh-Nya, hingga kami mempunyai visi misi yang sama dan harapan yang sama atas negeri ini. Ya, mereka lah rekan-rekan yang menjadi barisan pelopor dari gerakan Care for Education (CFE) yang baru 2 bulan saya gelontorkan ke masyarakat luas. Ady Jovial, Zaenmi Arlis, Valentina Plama Sastrodiharjo, Isnur Hikmah dan Hari Nugroho, sekelompok orang yang siap membantu saya mewujudkan hal yang mungkin tidak terlalu besar dan signifikan untuk bisa berkontribusi bagi pendidikan bangsa ini, namun tetap mempunyai impian besar tentang pendidikan yang layak dan lebih baik di negeri ini.

21 Juni 2011, Selasa malam, tepat di depan tugu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah universitas yang banyak melahirkan guru-guru di negeri ini, masih menjadi saksi atas dedikasi rekan-rekan saya ini. Sepulang beraktivitas mereka masih bersedia meluangkan waktu untuk memajukan program CFE. Kami membicarakan berbagai hal yang perlu dipersiapkan untuk menjalankan berbagai program kami. Keasyikan suasana diskusi saat itu, membawa larut diri kami, hingga tak sadar, malam sudah semakin pekat dan kami harus segera pulang untuk berisitirahat dan melanjutkan aktivitas esok harinya. 

MasyaAllah, kembali bukan suatu hal yang kebetulan. Ketika keesokan harinya, saya mendapat berita tentang topik acara regular CSR Widom yang tiap rabu pagi jam 8 saya pandu,  mengangkat topik tentang hak asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan. Tamu-tamu saya yang hadir pada saat itu adalah Wang Wardhana (Head of CB Market Sales Wealth Management, Consumer Banking), Irsan Angkasa (Provisi Education) dan Yanti Koestoer (Indonesia bisnis links). Kami berbincang dan sepakat bahwa persoalan bangsa ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk soal pendidikan. Namun yang perlu dicatat disini adalah, bahwa bukan lantas kemudian pemerintah merasa santai, kemudian soal-soal negeri di limpahkan kepada masyarakat ataupun korporasi, pemerintah tetap mempunyai tanggung jawab yang paling besar untuk menyelesaikan berbagai soal ini. 

Yang menarik adalah, diskusi saya pagi itu dalam program CSR Wisdom bersama ketiga narasumber, menyepakati bahwa, pendidikan bangsa ini masih jauh dari sebuah kelayakan. Pendidikan masih menjadi suatu barang yang mahal bagi sebagian orang, hal ini dalm konteks pendidikan formal. Meski hak mendapatkan pendidikan menjadi milik semua manusia di negeri ini, namun betapa ironi masih banyak dari masyarakat kita yang tidak bisa mengakses pendidikan (formal) dengan layak terlebih bermutu. Ketidakmerataan infrastuktur pendidikan di berbagai daerah semakin membuat pemandangan tak indah pendidikan kita. Beberapa anak-anak tingkat SD di Kaliurang, Yogyakarta, harus bangun pagi jam 4 subuh untuk menempuh jarak ke sekolah mereka. Bisa dibayangkan betapa sudah lelahnya mereka seketika sampai di sekolah untuk belajar. Belum lagi, anak-anak di daerah perbatasan Kalimantan dengan Malaysia, banyak dari mereka yang terancam buta huruf dikarenakan tidak mendapatkan akses pendidikan. Jangankan bicara pendidikan layak dan bermutu, mengakses pendidikan nya pun tidak mereka dapatkan. 

Fenomena lain, berdasarkan penelitian bahwa setiap menitnya 5 anak Indonesia putus sekolah. Coba cek http://kosmo.vivanews.com/news/read/189798--per-menit--lima-anak-putus-sekolah . Bagi saya ini sebuah keprihatinan bersama. Bisa dibayangkan bagaimana Indonesia kedepannya jika memiliki generasi tak berpendidikan. Mendengar dan juga mengetahui fenomena-fenomena tadi, menyulut saya dan rekan-rekan membentuk CFE. Kami tidak berpikir muluk atas terbentuknya CFE, yang kami pikirkan hanyalah bagaimana sesuatu yang kami bentuk ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kami yang masih ingin mengenyam pendidikan. 

Pemerintah mempunyai tanggung jawab besar untuk melakukan reformasi pendidikan di negeri ini, namun begitu saya yakin ini bukanlah menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari bangsa ini. Ini bukanlah persoalan aku dan kamu, namun ini menjadi soal kita. Sebuah film dengan judul “Alangkah lucunya negeri ini” karya Dedi Mizwar dan juga film “Batas” yang dibintangi oleh aktris berbakat Marcella Zalianty, turut menyulut kerangka berpikir saya, bahwa segala persoalan sosial negeri ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Tidak cukup hanya itu perubahan paradigma bahwa dengan berpendidikan, menciptakan manusia-manusia unggul dan cerdas lah yang bisa memutus mata rantai kemiskinan negeri ini.

Saya meyakini bahwa, banyak manusia-manusia di negeri ini yang peduli dengan kemajuan bangsa ini. Hanya saja bagaimana caranya keprihatinan dan kepedulian tersebut tidak menjadi mandul tanpa implementasi. Melakukan apa yang bisa dilakukan saat ini juga meskipun kecil, jauh lebih berarti, daripada tidak melakukan sama sekali. Memang pendidikan pun bisa didapatkan secara informal, namun tetap pendidikan formal juga mesti diperhatikan. Bangsa-bangsa yang besar adalah bangsa yang manusia didalamnya maju secara intelektual. Tapi satu hal yang perlu diingat, cerdas intelektual saja tidak cukup, kecerdasan seseorang akan semakin paripurna jika dilengkapi dengan kecerdasan emosional dan juga spiritual. Semoga sekilas tulisan yang masih jauh dari sempurna ini, bisa sedikit menyulut pikiran sahabat semua untuk bersama-sama melakukan sesuatu dan peduli pendidikan di negeri ini. Ingat, Education is not just government responsibilities but it is OUR responsibility.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar