Malam itu serasa
membawa kenangan saya pada saat kuliah dulu. Idealisme, diskusi, mematangkan
konsep, menjadi satu hal yang tak asing bagi saya ketika masa-masa di kampus
hijau saat itu. Tapi pada malam itu saya bukan sedang berkumpul dengan
sekelompok orang mahasiswa, namun saya tetap berkumpul dengan orang-orang yang
memiliki idealisme dan militansi yang luar biasa terhadap dunia pendidikan.
Pertemuan saya dengan mereka pun bukan suatu hal yang kebetulan, saya yakin ini
sudah direncanakan oleh-Nya, hingga kami mempunyai visi misi yang sama dan
harapan yang sama atas negeri ini. Ya, mereka lah rekan-rekan yang menjadi
barisan pelopor dari gerakan Care for Education (CFE) yang baru 2 bulan saya
gelontorkan ke masyarakat luas. Ady Jovial, Zaenmi Arlis, Valentina Plama
Sastrodiharjo, Isnur Hikmah dan Hari Nugroho, sekelompok orang yang siap
membantu saya mewujudkan hal yang mungkin tidak terlalu besar dan signifikan
untuk bisa berkontribusi bagi pendidikan bangsa ini, namun tetap mempunyai
impian besar tentang pendidikan yang layak dan lebih baik di negeri ini.
21 Juni 2011, Selasa
malam, tepat di depan tugu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah universitas
yang banyak melahirkan guru-guru di negeri ini, masih menjadi saksi atas
dedikasi rekan-rekan saya ini. Sepulang beraktivitas mereka masih bersedia
meluangkan waktu untuk memajukan program CFE. Kami membicarakan berbagai hal
yang perlu dipersiapkan untuk menjalankan berbagai program kami. Keasyikan
suasana diskusi saat itu, membawa larut diri kami, hingga tak sadar, malam
sudah semakin pekat dan kami harus segera pulang untuk berisitirahat dan
melanjutkan aktivitas esok harinya.
MasyaAllah, kembali
bukan suatu hal yang kebetulan. Ketika keesokan harinya, saya mendapat berita
tentang topik acara regular CSR Widom yang tiap rabu pagi jam 8 saya
pandu, mengangkat topik tentang hak
asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan. Tamu-tamu saya yang hadir pada saat
itu adalah Wang Wardhana (Head of CB Market Sales Wealth Management, Consumer
Banking), Irsan Angkasa (Provisi Education) dan Yanti Koestoer (Indonesia
bisnis links). Kami berbincang dan sepakat bahwa persoalan bangsa ini bukan
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat,
termasuk soal pendidikan. Namun yang perlu dicatat disini adalah, bahwa bukan
lantas kemudian pemerintah merasa santai, kemudian soal-soal negeri di
limpahkan kepada masyarakat ataupun korporasi, pemerintah tetap mempunyai
tanggung jawab yang paling besar untuk menyelesaikan berbagai soal ini.
Yang menarik adalah,
diskusi saya pagi itu dalam program CSR Wisdom bersama ketiga narasumber,
menyepakati bahwa, pendidikan bangsa ini masih jauh dari sebuah kelayakan.
Pendidikan masih menjadi suatu barang yang mahal bagi sebagian orang, hal ini
dalm konteks pendidikan formal. Meski hak mendapatkan pendidikan menjadi milik
semua manusia di negeri ini, namun betapa ironi masih banyak dari masyarakat
kita yang tidak bisa mengakses pendidikan (formal) dengan layak terlebih
bermutu. Ketidakmerataan infrastuktur pendidikan di berbagai daerah semakin
membuat pemandangan tak indah pendidikan kita. Beberapa anak-anak tingkat SD di
Kaliurang, Yogyakarta, harus bangun pagi jam 4 subuh untuk menempuh jarak ke
sekolah mereka. Bisa dibayangkan betapa sudah lelahnya mereka seketika sampai
di sekolah untuk belajar. Belum lagi, anak-anak di daerah perbatasan Kalimantan
dengan Malaysia, banyak dari mereka yang terancam buta huruf dikarenakan tidak
mendapatkan akses pendidikan. Jangankan bicara pendidikan layak dan bermutu,
mengakses pendidikan nya pun tidak mereka dapatkan.
Fenomena lain,
berdasarkan penelitian bahwa setiap menitnya 5 anak Indonesia putus sekolah.
Coba cek http://kosmo.vivanews.com/news/read/189798--per-menit--lima-anak-putus-sekolah
. Bagi saya ini sebuah keprihatinan bersama. Bisa
dibayangkan bagaimana Indonesia kedepannya jika memiliki generasi tak
berpendidikan. Mendengar dan juga mengetahui fenomena-fenomena tadi, menyulut
saya dan rekan-rekan membentuk CFE. Kami tidak berpikir muluk atas terbentuknya
CFE, yang kami pikirkan hanyalah bagaimana sesuatu yang kami bentuk ini dapat
bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kami yang masih ingin mengenyam
pendidikan.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab besar untuk melakukan reformasi
pendidikan di negeri ini, namun begitu saya yakin ini bukanlah menjadi tanggung
jawab pemerintah semata, namun juga tanggung jawab kita bersama sebagai bagian
dari bangsa ini. Ini bukanlah persoalan aku dan kamu, namun ini menjadi soal
kita. Sebuah film dengan judul “Alangkah
lucunya negeri ini” karya Dedi Mizwar dan juga film “Batas” yang dibintangi oleh aktris berbakat Marcella Zalianty,
turut menyulut kerangka berpikir saya, bahwa segala persoalan sosial negeri ini
menjadi tanggung jawab kita bersama. Tidak cukup hanya itu perubahan paradigma
bahwa dengan berpendidikan, menciptakan manusia-manusia unggul dan cerdas lah
yang bisa memutus mata rantai kemiskinan negeri ini.
Saya meyakini bahwa, banyak manusia-manusia di negeri ini yang peduli
dengan kemajuan bangsa ini. Hanya saja bagaimana caranya keprihatinan dan
kepedulian tersebut tidak menjadi mandul tanpa implementasi. Melakukan apa yang
bisa dilakukan saat ini juga meskipun kecil, jauh lebih berarti, daripada tidak
melakukan sama sekali. Memang pendidikan pun bisa didapatkan secara informal,
namun tetap pendidikan formal juga mesti diperhatikan. Bangsa-bangsa yang besar
adalah bangsa yang manusia didalamnya maju secara intelektual. Tapi satu hal
yang perlu diingat, cerdas intelektual saja tidak cukup, kecerdasan seseorang
akan semakin paripurna jika dilengkapi dengan kecerdasan emosional dan juga
spiritual. Semoga sekilas tulisan yang masih jauh dari sempurna ini, bisa
sedikit menyulut pikiran sahabat semua untuk bersama-sama melakukan sesuatu dan
peduli pendidikan di negeri ini. Ingat, Education
is not just government responsibilities but it is OUR responsibility.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar