Minggu, 27 Mei 2012

Jangan Biarkan Lilin itu Padam : Refleksi 1 tahun Care for Education (CFE)


Boleh aja kalau mau buat sekolah disini, itu tuh tempatnya deket pos lapak didepan sana..”  Jawab salah satu preman di kawasan pemulung , Rawamangun.  Terik matahari yang begitu menyengat tidak mematahkan semangat sekelompok anak muda yang mempunyai misi yang sama yaitu berbuat sesuatu untuk membantu pendidikan negeri ini. Saat ini sekelompok anak muda tadi lebih dikenal dengan  team CFE (Care for Education). Tak muluk-muluk saat itu harapan team CFE, kami hanya ingin berbuat sesuatu, mengajar anak-anak yang kurang mampu dan anak-anak jalanan yang terpinggirkan dari pendidikan,  itu saja. Ya hanya itu saja yang ada dipikiran kami saat itu.

Sepetak ruang kecil, nampak kotor, bau dan sangat tak terurus. Itulah ruang yang nantinya digunakan untuk tempat bermain dan belajar. Dengan itikad dan semangat penuh, sekelompok anak muda tadi membereskan sekaligus membersihkan ruangan. Kondisi yang kotor dan kumuh memang sudah menjadi pemandangan biasa disekitar area tempat kami mendirikan kelas belajar. Hampir tidak ada area yang cukup bersih dan representatif untuk menjadikan kelas belajar, namun alhamdulillah berkat kerjasama kami bisa membuat satu kelas yang sederhana namun cukup baik untuk bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Namun begitu tetap saja di awal, ketika cuaca panas menyengat, ruang belajar yang disediakan menjadi sangat tidak nyaman. Saya masih ingat betul bagaimana ruang belajar kami yang beratap asbes, membuat kondisi semakin panas ditengah cuaca panas dan anak-anak yang belajar tak betah berlama-lama di dalam kelas, mereka memilih keluar dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun.

Hari demi hari kami lalui dengan segala tantangannya. Mulai dari area belajar yang jauh dari representatif, alat-alat belajar seadanya yang terkadang tak cukup untuk mengcover jumlah anak-anak yang belajar. Satu meja tulis bisa digunakan untuk 3 anak, yang semestinya hanya untuk 2 orang anak, sampai dengan alas belajar dengan terpal bekas. Belum lagi beberapa volunteer yang silih berganti. Ya, memang segala sesautunya akan teruji dengan sendirinya. Namun tetap bersyukur, tim perintis CFE tetap berdiri tegak sampai saat ini, dan inshaAllah selamanya. Tapi tantangan tidak hanya sampai disitu, ketidakpedulian orang tua dari anak-anak yang bermain dan belajar bersama kami pun menjadi pelengkap tantangan kami untuk terus konsisten mengajar sambil bersabar mereka mau ikut melihat dan menemani anak-anaknya belajar bersama kami. Tak terasa memang, tidak sampai 6 bulan CFE berjalan, anak-anak semakin menjadi sahabat yang selalu merindukan dan dirindukan CFE. Orang tua semakin aktif untuk bekerjasama dengan kami, mendorong anak-anak untuk belajar. Tak lain memang itu semua buah dari kesabaran.

Tak cukup rasanya tantangan sampai disitu. Desember 2011, kondisi yang paling tidak kami harapkan terjadi. Area pemberdayaan kami untuk mengajar digusur. Sebagian alat-alat belajar tak sempat kami selamatkan. Untunglah masih ada barang-barang lain pendukung belajar tidak semua kami taruh di kelas. Namun begitu, setelah kejadian tersebut kami tidak pupus untuk terus mengajar. Belajar pun bukan lagi hambatan. Kami memutuskan untuk meneruskan kegiatan bermain dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun. Sungguh miris mengetahui sekaligus menjalani kondisi ini. Kesenjangan sudah nampak terlihat. Bagaimana sekolah-sekolah lain dengan begitu nyamannya mengadakan proses belajar-mengajar,disisi lain kami mesti berjuang untuk terus mengajar ditengah kondisi debu, polusi kendaraan, prasarana yang minim dan seadanya.

Tidak ada kata menyerah. Itulah yang tetap saya lihat, semangat dari sahabat-sahabat sekaligus team CFE. Semua tetap bahu-membahu menebarkan semangat satu sama lain untuk terus berjuang memberikan pendidikan kepada anak-anak terpinggirkan. Dedikasi mereka tak diragukan. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa, namun bagi saya yang melihat langsung apa yang mereka kerjakan dan bagaimana kontribusi mereka sekaligus merasakan sendiri tantangan-tantangan yang dihadapi, karenanya bagi saya mereka (sahabat sekaligus team CFE) adalah insan luar biasa. Bukan hanya itu saja, mereka pun konsisten tetap semangat menjalankan misi CFE ini, dengan kondisi seadanya, tak berbayar. Mereka dengan sukarela melakukan semua. Meski mereka bekerja, kuliah dan dalam kondisi ekonomi yang biasa saja, tapi mereka mempunyai konsistensi yang begitu luar biasa. Salute!

Dedikasi dan konsistensi semakin terlihat ketika kondisi sekolah kami tergusur, sahabat team CFE dengan sabar satu persatu, mencari adik-adik kami yang akhirnya terpencar entah kemana. Sebagian dari mereka yang belajar sebelumnya bersama kami sempat tak ada, dan entah dimana. Mereka berusaha menelusuri dimana jejak keluarga adik-adik yang belajar bersama kami. Sungguh bukan hal yang mengenakan, namun karena satu semanagat dan tekad yang sama, alhamdulillah kami bisa kembali menemukan dimana adik-adik kami berada. Akhirnya kami kembali mencari tempat baru kembali untuk belajar, dan kembali kami menerima tantangan, kami diusir. 

Memang tak ada konsistensi yang tanpa uji. Pengusiran kami dari tempat yang baru kami buat, tak menyusutkan niat kami untuk tetap mencari tempat baru dan lebih layak bagi adik-adik untuk belajar. Alhamdulillah, ikhtiar berbuah hasil. Seorang sahabat baru yang akhirnya menjadi team CFE, memberikan kesempatan kepada CFE untuk menggunakan tempat yang di kontraknya untuk menjadi tempat belajar adik-adik sekolah pelangi saat ini. Seiring kesabaran, disertai ucapan alhamdulillah untuk kesekian kalinya, saat ini kami bisa kembali mengajar dengan tempat yang layak dari sebelumnya, dan adik-adik di sekolah yang kami beri nama sekolah pelangi terus bertambah. Orang tua pun tak sungkan kadang menemani anak-anak mereka belajar hingga jam bermain dan belajar selesai.

Saat ini ikhtiar CFE terus berkembang, dan alhamdulillah telah melewati satu tahun perjalanannya. Sungguh masih belum apa-apa. Namun betapa saya bersyukur di usianya yang baru 1 tahun CFE telah mampu menjalankan 3 program utamanya secara konsisten. Teaching for Child, Gerakan seribu rupiah untuk sekolah dan Sahabat asuh, dan masih satu PR yang belum bisa dijalankan secara konsisten adalah program smart parenting. Implementasi program Teaching for Child kami lakukan dengan mengadakan pengajaran setiap Sabtu-Minggu di daerah pemberdayaan kami Jl. Pemuda Raya, Rawamangun. Sedangkan Gerakan Seribu Rupiah untuk Sekolah, terus terlaksana dengan adanya soasialiasi mengenai CFE ke berbergai undangan seminar maupun kampus dan mengajak mereka semua untuk melakukan gerakan peduli seribu rupiah untuk sekolah tersebut. Dan untuk program sahabat asuh sendiri, CFE telah memfasilitasi beasiswa bagi 10 siswa SD, 3 SMP, 4 SMK dan 2 Universitas. Fasilitas beasiswa itu semua tak’an ada tanpa bantuan 5 orang donatur sahabat asuh kami. Sekali lagi, alhamdulillah.

Kami sadar ini belum seberapa. Masih banyak lagi yang menjadi PR CFE kedepannya dengan satu paket tantangannya. Namun begitu kami hanya berharap semoga Tuhan YME terus memberikan kesehatan dan kekuatan terhadap kami semua untuk bisa lebih maksimal lagi membantu pendidikan negeri di kemudian hari. Program berikutnya yang segera akan kami jalankan adalah “Benahi sekolahku” dan “1 juta untuk guru”. Semoga ini semua bisa bermanfaat. Hanya itu harapan kami.
Dalam kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat sekaligus team hebat :

  1. Valentina Palma Sastrodiharjo : You are so AWESOME, dear!!
  2. Ady Jovial : Terima kasih atas segala sabar dan  telah menjadi pendukung yang tak kalah luar biasa!!
  3. Zaenmi Arlis : Salute dengan dedikasi mu!
  4. Alif : Bu Guru yang sabar, terima kasih telah gabung berjuang bersama CFE!
  5. Anty : Kamu bukan team yang biasa. Kamu luar biasa!
  6. Isnur : Thank you, telah bersedia menjadi pengurus keuangan kami yang amanah.
Dan bagi para mentor kami yang sungguh luar biasa, Prasetya M. Brata dan Melly Kiong, Terima kasih telah menjadi mentor sekaligus Guru yang luar biasa. Tidak lupa kepada seluruh donator dan sahabat asuh, semoga Tuhan beri keberkahan dan sukses untuk Anda semua.

Semoga tulisan ini bisa menjadi penyulut bagi sahabat-sahabat ku yang lain untuk melakukan hal yang sama  atau bahkan lebih, demi membantu pendidikan negeri ini. Sekedar mengingatkan, bahwa pendidikan negeri ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama. Lakukan apa yang bisa kita lakukan!

Adalah tugas mereka yang terdidik untuk kembali mendidik mereka-mereka yang belum terdidik” -Anies Baswedan-

Riri Artakusuma
Ciputat, 27 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar