“Boleh aja kalau
mau buat sekolah disini, itu tuh tempatnya deket pos lapak didepan sana..” Jawab salah satu preman di kawasan pemulung ,
Rawamangun. Terik matahari yang begitu
menyengat tidak mematahkan semangat sekelompok anak muda yang mempunyai misi yang
sama yaitu berbuat sesuatu untuk membantu pendidikan negeri ini. Saat ini
sekelompok anak muda tadi lebih dikenal dengan
team CFE (Care for Education). Tak muluk-muluk saat itu harapan team CFE,
kami hanya ingin berbuat sesuatu, mengajar anak-anak yang kurang mampu dan
anak-anak jalanan yang terpinggirkan dari pendidikan, itu saja. Ya hanya itu saja yang ada dipikiran kami saat itu.
Sepetak ruang
kecil, nampak kotor, bau dan sangat tak terurus. Itulah ruang yang nantinya
digunakan untuk tempat bermain dan belajar. Dengan itikad dan semangat penuh,
sekelompok anak muda tadi membereskan sekaligus membersihkan ruangan. Kondisi
yang kotor dan kumuh memang sudah menjadi pemandangan biasa disekitar area
tempat kami mendirikan kelas belajar. Hampir tidak ada area yang cukup bersih
dan representatif untuk menjadikan kelas belajar, namun alhamdulillah berkat
kerjasama kami bisa membuat satu kelas yang sederhana namun cukup baik untuk
bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak. Namun begitu tetap saja di awal, ketika cuaca panas menyengat, ruang belajar yang disediakan menjadi sangat tidak
nyaman. Saya masih ingat betul bagaimana ruang belajar kami yang beratap asbes, membuat kondisi semakin panas ditengah cuaca panas dan anak-anak yang belajar tak betah berlama-lama
di dalam kelas, mereka memilih keluar dan belajar di bawah fly over bypass Rawamangun.
Hari demi hari kami
lalui dengan segala tantangannya. Mulai dari area belajar yang jauh dari
representatif, alat-alat belajar seadanya yang terkadang tak cukup untuk
mengcover jumlah anak-anak yang belajar. Satu meja tulis bisa digunakan untuk 3
anak, yang semestinya hanya untuk 2 orang anak, sampai dengan alas belajar
dengan terpal bekas. Belum lagi beberapa volunteer yang silih berganti. Ya, memang segala sesautunya akan teruji dengan sendirinya. Namun tetap bersyukur, tim perintis CFE tetap berdiri tegak sampai saat ini, dan inshaAllah selamanya. Tapi tantangan tidak hanya sampai disitu, ketidakpedulian orang tua dari anak-anak yang
bermain dan belajar bersama kami pun menjadi pelengkap tantangan kami untuk
terus konsisten mengajar sambil bersabar mereka mau ikut melihat dan menemani
anak-anaknya belajar bersama kami. Tak terasa memang, tidak sampai 6 bulan CFE
berjalan, anak-anak semakin menjadi sahabat yang selalu merindukan dan
dirindukan CFE. Orang tua semakin aktif untuk bekerjasama dengan kami,
mendorong anak-anak untuk belajar. Tak lain memang itu semua buah dari
kesabaran.
Tak cukup rasanya
tantangan sampai disitu. Desember 2011, kondisi yang paling tidak kami harapkan
terjadi. Area pemberdayaan kami untuk mengajar digusur. Sebagian alat-alat
belajar tak sempat kami selamatkan. Untunglah masih ada barang-barang lain pendukung
belajar tidak semua kami taruh di kelas. Namun begitu, setelah kejadian
tersebut kami tidak pupus untuk terus mengajar. Belajar pun bukan lagi
hambatan. Kami memutuskan untuk meneruskan kegiatan bermain dan belajar di
bawah fly over bypass Rawamangun. Sungguh miris mengetahui sekaligus menjalani
kondisi ini. Kesenjangan sudah nampak terlihat. Bagaimana sekolah-sekolah lain
dengan begitu nyamannya mengadakan proses belajar-mengajar,disisi lain kami
mesti berjuang untuk terus mengajar ditengah kondisi debu, polusi kendaraan,
prasarana yang minim dan seadanya.
Tidak ada kata
menyerah. Itulah yang tetap saya lihat, semangat dari sahabat-sahabat sekaligus
team CFE. Semua tetap bahu-membahu menebarkan semangat satu sama lain untuk
terus berjuang memberikan pendidikan kepada anak-anak terpinggirkan. Dedikasi
mereka tak diragukan. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa,
namun bagi saya yang melihat langsung apa yang mereka kerjakan dan bagaimana
kontribusi mereka sekaligus merasakan sendiri tantangan-tantangan yang
dihadapi, karenanya bagi saya mereka (sahabat sekaligus team CFE) adalah insan
luar biasa. Bukan hanya itu saja, mereka pun konsisten tetap semangat
menjalankan misi CFE ini, dengan kondisi seadanya, tak berbayar. Mereka dengan
sukarela melakukan semua. Meski mereka bekerja, kuliah dan dalam kondisi
ekonomi yang biasa saja, tapi mereka mempunyai konsistensi yang begitu luar
biasa. Salute!
Dedikasi dan
konsistensi semakin terlihat ketika kondisi sekolah kami tergusur, sahabat team
CFE dengan sabar satu persatu, mencari adik-adik kami yang akhirnya terpencar
entah kemana. Sebagian dari mereka yang belajar sebelumnya bersama kami sempat
tak ada, dan entah dimana. Mereka berusaha menelusuri dimana jejak keluarga
adik-adik yang belajar bersama kami. Sungguh bukan hal yang mengenakan, namun
karena satu semanagat dan tekad yang sama, alhamdulillah kami bisa kembali
menemukan dimana adik-adik kami berada. Akhirnya kami kembali mencari tempat
baru kembali untuk belajar, dan kembali kami menerima tantangan, kami diusir.
Memang tak ada
konsistensi yang tanpa uji. Pengusiran kami dari tempat yang baru kami buat,
tak menyusutkan niat kami untuk tetap mencari tempat baru dan lebih layak bagi
adik-adik untuk belajar. Alhamdulillah, ikhtiar berbuah hasil. Seorang sahabat
baru yang akhirnya menjadi team CFE, memberikan kesempatan kepada CFE untuk
menggunakan tempat yang di kontraknya untuk menjadi tempat belajar adik-adik
sekolah pelangi saat ini. Seiring kesabaran, disertai ucapan alhamdulillah
untuk kesekian kalinya, saat ini kami bisa kembali mengajar dengan tempat yang
layak dari sebelumnya, dan adik-adik di sekolah yang kami beri nama sekolah
pelangi terus bertambah. Orang tua pun tak sungkan kadang menemani anak-anak
mereka belajar hingga jam bermain dan belajar selesai.
Saat ini ikhtiar
CFE terus berkembang, dan alhamdulillah telah melewati satu tahun perjalanannya.
Sungguh masih belum apa-apa. Namun betapa saya bersyukur di usianya yang baru 1
tahun CFE telah mampu menjalankan 3 program utamanya secara konsisten. Teaching
for Child, Gerakan seribu rupiah untuk sekolah dan Sahabat asuh, dan masih
satu PR yang belum bisa dijalankan secara konsisten adalah program smart
parenting. Implementasi program Teaching for Child kami lakukan dengan
mengadakan pengajaran setiap Sabtu-Minggu di daerah pemberdayaan kami Jl. Pemuda Raya,
Rawamangun. Sedangkan Gerakan Seribu Rupiah untuk Sekolah, terus terlaksana
dengan adanya soasialiasi mengenai CFE ke berbergai undangan seminar maupun
kampus dan mengajak mereka semua untuk melakukan gerakan peduli seribu rupiah
untuk sekolah tersebut. Dan untuk program sahabat asuh sendiri, CFE telah
memfasilitasi beasiswa bagi 10 siswa SD, 3 SMP, 4 SMK dan 2 Universitas. Fasilitas
beasiswa itu semua tak’an ada tanpa bantuan 5 orang donatur sahabat asuh kami.
Sekali lagi, alhamdulillah.
Kami sadar ini
belum seberapa. Masih banyak lagi yang menjadi PR CFE kedepannya dengan satu
paket tantangannya. Namun begitu kami hanya berharap semoga Tuhan YME terus
memberikan kesehatan dan kekuatan terhadap kami semua untuk bisa lebih maksimal
lagi membantu pendidikan negeri di kemudian hari. Program berikutnya yang
segera akan kami jalankan adalah “Benahi sekolahku” dan “1 juta untuk guru”.
Semoga ini semua bisa bermanfaat. Hanya itu harapan kami.
Dalam kesempatan
ini pula, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat
sekaligus team hebat :
- Valentina Palma Sastrodiharjo : You are so AWESOME, dear!!
- Ady Jovial : Terima kasih atas segala sabar dan telah menjadi pendukung yang tak kalah luar biasa!!
- Zaenmi Arlis : Salute dengan dedikasi mu!
- Alif : Bu Guru yang sabar, terima kasih telah gabung berjuang bersama CFE!
- Anty : Kamu bukan team yang biasa. Kamu luar biasa!
- Isnur : Thank you, telah bersedia menjadi pengurus keuangan kami yang amanah.
Dan bagi para
mentor kami yang sungguh luar biasa, Prasetya M. Brata dan Melly Kiong, Terima
kasih telah menjadi mentor sekaligus Guru yang luar biasa. Tidak lupa kepada seluruh donator dan sahabat asuh, semoga Tuhan beri
keberkahan dan sukses untuk Anda semua.
Semoga tulisan ini
bisa menjadi penyulut bagi sahabat-sahabat ku yang lain untuk melakukan hal
yang sama atau bahkan lebih, demi
membantu pendidikan negeri ini. Sekedar mengingatkan, bahwa pendidikan negeri
ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama.
Lakukan apa yang bisa kita lakukan!
“Adalah tugas
mereka yang terdidik untuk kembali mendidik mereka-mereka yang belum terdidik”
-Anies Baswedan-
Riri Artakusuma
Ciputat, 27 Mei
2012

