Kamis, 12 April 2012

"Tamparan" Serdadu Kumbang

Kami hanya ingin belajar dengan bahagia meski sering tak tahu
Kami hanya ingin tahu meski kadang terbatas karena tidak mampu
Kami hanya ingin bersama sang guru yang patut di gugu dan di tiru
Dan kami hanya ingin mencapai langit mimpi  meski nampak begitu jauh..

Sore itu setelah lelah berkeringat dan berkutat dengan sahabat serdadu kumbang (adik-adik pemulung) di rawamangun, tepat di mana saya merenungkan hari kelahiran (milad), saya bersama-sama kawan-kawan CFE, segera menuju Metropole, Megaria untuk nonton bersama film yang cukup banyak mengkritisi praktek pendidikan di Indonesia “Serdadu Kumbang”. Dengan latar belakang Sumbawa, membuat film tersebut makin terasa menunjukan bagaimana kondisi pendidikan di pelosok-pelosok daerah di tanah air.

Sudah ada sebelumnya jenis film yang hampir sama, mengangangkat tema dan latar yang sama. Namun kali ini memang sangat berbeda. Ditengah hangatnya isu mengenai kebohongan di dunia pendidikan, kecurangan-kecurangan, kekerasan dalam pendidikan, film Serdadu Kumbang menjadi media yang pas sekali untuk menggambarkan kondisi-kondisi tadi. Saya sengaja mengajak sahabat-sahabat CFE saya untuk menonton film yang satu ini, dengan harapan semoga sahabat-sahabat saya bisa lebih semangat lagi dalam memperjuangkan visi dari CFE itu sendiri. Berjuang untuk pendidikan bagi mereka yang tak mampu dengan basis karakter. Meskipun saya tidak menyangsikan, militansi team saya dalam mewujudkan tujuan kami di CFE.

Menyimak. Itulah suasana yang saya lihat ketika sahabat-sahabat saya ini mengikuti alur cerita yang disuguhkan dalam film serdadu kumbang. Ditengah saya memperhatikan sahabat-sahabat CFE, saya menyempatkan menuliskan beberapa poin, yang menurut saya penting dari film tersebut. Sebagian besar poin tersebut bisa menjadi PR sekaligus cermin bagi pemerintah negeri ini.  Beberapa poin itu adalah :
  1. Pendidikan dengan kekerasan
  2. Pendidikan dengan kebohongan
  3. Pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik semata
  4. Kesenjangan infrastruktur pendidikan
  5. Semangat mempertahankan impian
Pendidikan dengan kekerasan. Ini sebuah “tamparan” pertama yang disuguhkan dalam serdadu kumbang. Betapa banyak informasi yang kita ketahui baik itu dari media maupun langsung, bahwa guru memberikan sanksi lebih bersifat fisik kepada murid dengan alasan mengajarkan kedisiplinan. Padahal banyak cara yang lebih baik untuk mengajarkan kedisplinan tanpa harus berbau kekerasan. Tak heran banyak pelajar dan mahasiswa di negeri ini, yang lebih suka tawuran. “Tamparan” kedua adalah penuhnya lembaga pendidikan kita yang berbalut kebohongan. Jual beli jawaban ujian bukan lagi dilakukan oleh orang-orang diluar institusi pendidikan, tapi justru hal tersebut dilakukan oleh para guru, yang notabene seorang pendidik. Karenanya tidak heran bahwa baru-baru ini diketahui bahwa ada satu sekolah yang berhasil meluluskan siswanya semua karena hasil jual-beli jawaban ujian. Astagfirullah!! Tidak aneh kalau negeri ini, pejabat-pejabatnya sering korupsi, jual beli tender proyek, mark up, dan sebagainya. Inilah mengapa saya mengatakan di awal, bahwa tidak heran negeri ini banyak pembohong.

Tidak cukup sampai disitu poin yang saya dapatkan dalam film serdadu kumbang. Pendidikan yang berorientasi pada nilai semata, juga disajikan. Seorang anak dengan prestasi yang sangat luar bisa, bahkan terpintar sedaerahnya, tidak lulus ujian hanya karena nilai yang diraih tidak sesuai dengan standar nasional. Sungguh miris dan menyedihkan. Fenomena ini bisa kita jumpai juga di dunia nyata. Bagaimana seorang anak pemenang olimpiade fisika, namun tidak lulus ujian akhir hanya karena standar nilai. Sungguh sebuah ironi. Kesemerawutan dunia pendidikan kita semakin di perparah dengan minimnya infrastruktur pendidikan, terutama di daerah-daerah.

Ditengah catatan-catatan yang kurang baik tentang wajah pendidikan negeri berlimpah, saya masih mencatat pesan positif dari film ini. Tetap menjaga impian!!. Ya, itulah yang disampaikan dibeberapa adegan. Tak ada pantang rintangan yang menyurutkan semangat untuk menggapai impian. Amek (salah satu tokoh utama) yang bercita-cita menjadi seorang presenter TV, terus berafirmasi dan bertindak seolah-olah sebagai seorang presenter di belakang rumahnya. Tak menutup kemungkinan seandainya ini merupakan adegan nyata yang dilakukan oleh seorang anak, kelak ia akan betul-betul menggapai impiannya sebagai presenter.

Menjelang film berakhir, saya melihat sahabat CFE, terdiam dengan mata berkaca-kaca. Usai lampu-lampu menyala di dalam bioskop, saya betul-betul haru melihat sahabat-sahabat CFE saya tersenyum, terharu, semangat dan semakin bergelora. Tiba-tiba rekan saya Valentina, mengajak kami berkumpul untuk berjabat tangan, tanda bahwa CFE diharapkan bisa terus kompak, untuk turut berkontribusi membantu mereka-mereka yang tak mampu merasakan pendidikan, meski tak besar yang bisa kami lakukan.

Dengan ringkasan cerita ini, moga kita semakin tergerak untuk terus melakukan sesuatu yang manfaat bagi pendidikan di negeri ini, terutama bagi masyarakat yang tak mampu, terpinggirkan. Meski tak besar yang dilakukan, tapi semoga yang kecil-kecil yang kita lakukan turut memberi arti dan manfaat bagi sekitar kita. Namun begitu, hal apapun yang dilakukan harus penuh dengan konsistensi, dan yang perlu disadari, tidak ada konsistensi yang tanpa uji , terlebih dalam kebaikan.

Terus semangat, sahabat ku di CFE.  Kalian pelita bagi mereka yang merindukan pendidikan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar