Kami hanya ingin tahu meski kadang terbatas karena tidak mampu
Kami hanya ingin bersama sang guru yang patut di gugu dan di tiru
Dan kami hanya ingin mencapai langit mimpi meski nampak begitu jauh..
Sore
itu setelah lelah berkeringat dan berkutat dengan sahabat serdadu
kumbang (adik-adik pemulung) di rawamangun, tepat di mana saya
merenungkan hari kelahiran (milad), saya bersama-sama kawan-kawan CFE,
segera menuju Metropole, Megaria untuk nonton bersama film yang cukup
banyak mengkritisi praktek pendidikan di Indonesia “Serdadu Kumbang”.
Dengan latar belakang Sumbawa, membuat film tersebut makin terasa
menunjukan bagaimana kondisi pendidikan di pelosok-pelosok daerah di
tanah air.
Sudah ada sebelumnya jenis film yang hampir
sama, mengangangkat tema dan latar yang sama. Namun kali ini memang
sangat berbeda. Ditengah hangatnya isu mengenai kebohongan di dunia
pendidikan, kecurangan-kecurangan, kekerasan dalam pendidikan, film
Serdadu Kumbang menjadi media yang pas sekali untuk menggambarkan
kondisi-kondisi tadi. Saya sengaja mengajak sahabat-sahabat CFE saya
untuk menonton film yang satu ini, dengan harapan semoga sahabat-sahabat
saya bisa lebih semangat lagi dalam memperjuangkan visi dari CFE itu
sendiri. Berjuang untuk pendidikan bagi mereka yang tak mampu dengan
basis karakter. Meskipun saya tidak menyangsikan, militansi team saya
dalam mewujudkan tujuan kami di CFE.
Menyimak. Itulah
suasana yang saya lihat ketika sahabat-sahabat saya ini mengikuti alur
cerita yang disuguhkan dalam film serdadu kumbang. Ditengah saya
memperhatikan sahabat-sahabat CFE, saya menyempatkan menuliskan beberapa
poin, yang menurut saya penting dari film tersebut. Sebagian besar poin
tersebut bisa menjadi PR sekaligus cermin bagi pemerintah negeri ini.
Beberapa poin itu adalah :
- Pendidikan dengan kekerasan
- Pendidikan dengan kebohongan
- Pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik semata
- Kesenjangan infrastruktur pendidikan
- Semangat mempertahankan impian
Pendidikan
dengan kekerasan. Ini sebuah “tamparan” pertama yang disuguhkan dalam
serdadu kumbang. Betapa banyak informasi yang kita ketahui baik itu dari
media maupun langsung, bahwa guru memberikan sanksi lebih bersifat
fisik kepada murid dengan alasan mengajarkan kedisiplinan. Padahal
banyak cara yang lebih baik untuk mengajarkan kedisplinan tanpa harus
berbau kekerasan. Tak heran banyak pelajar dan mahasiswa di negeri ini,
yang lebih suka tawuran. “Tamparan” kedua adalah penuhnya lembaga
pendidikan kita yang berbalut kebohongan. Jual beli jawaban ujian bukan
lagi dilakukan oleh orang-orang diluar institusi pendidikan, tapi justru
hal tersebut dilakukan oleh para guru, yang notabene seorang pendidik.
Karenanya tidak heran bahwa baru-baru ini diketahui bahwa ada satu
sekolah yang berhasil meluluskan siswanya semua karena hasil jual-beli
jawaban ujian. Astagfirullah!! Tidak aneh kalau negeri ini,
pejabat-pejabatnya sering korupsi, jual beli tender proyek, mark up, dan
sebagainya. Inilah mengapa saya mengatakan di awal, bahwa tidak heran
negeri ini banyak pembohong.
Tidak cukup sampai disitu
poin yang saya dapatkan dalam film serdadu kumbang. Pendidikan yang
berorientasi pada nilai semata, juga disajikan. Seorang anak dengan
prestasi yang sangat luar bisa, bahkan terpintar sedaerahnya, tidak
lulus ujian hanya karena nilai yang diraih tidak sesuai dengan standar
nasional. Sungguh miris dan menyedihkan. Fenomena ini bisa kita jumpai
juga di dunia nyata. Bagaimana seorang anak pemenang olimpiade fisika,
namun tidak lulus ujian akhir hanya karena standar nilai. Sungguh sebuah
ironi. Kesemerawutan dunia pendidikan kita semakin di perparah dengan
minimnya infrastruktur pendidikan, terutama di daerah-daerah.
Ditengah
catatan-catatan yang kurang baik tentang wajah pendidikan negeri
berlimpah, saya masih mencatat pesan positif dari film ini. Tetap
menjaga impian!!. Ya, itulah yang disampaikan dibeberapa adegan. Tak ada
pantang rintangan yang menyurutkan semangat untuk menggapai impian.
Amek (salah satu tokoh utama) yang bercita-cita menjadi seorang
presenter TV, terus berafirmasi dan bertindak seolah-olah sebagai
seorang presenter di belakang rumahnya. Tak menutup kemungkinan
seandainya ini merupakan adegan nyata yang dilakukan oleh seorang anak,
kelak ia akan betul-betul menggapai impiannya sebagai presenter.
Menjelang
film berakhir, saya melihat sahabat CFE, terdiam dengan mata
berkaca-kaca. Usai lampu-lampu menyala di dalam bioskop, saya
betul-betul haru melihat sahabat-sahabat CFE saya tersenyum, terharu,
semangat dan semakin bergelora. Tiba-tiba rekan saya Valentina, mengajak
kami berkumpul untuk berjabat tangan, tanda bahwa CFE diharapkan bisa
terus kompak, untuk turut berkontribusi membantu mereka-mereka yang tak
mampu merasakan pendidikan, meski tak besar yang bisa kami lakukan.
Dengan
ringkasan cerita ini, moga kita semakin tergerak untuk terus melakukan
sesuatu yang manfaat bagi pendidikan di negeri ini, terutama bagi
masyarakat yang tak mampu, terpinggirkan. Meski tak besar yang
dilakukan, tapi semoga yang kecil-kecil yang kita lakukan turut memberi
arti dan manfaat bagi sekitar kita. Namun begitu, hal apapun yang
dilakukan harus penuh dengan konsistensi, dan yang perlu disadari, tidak
ada konsistensi yang tanpa uji , terlebih dalam kebaikan.
Terus semangat, sahabat ku di CFE. Kalian pelita bagi mereka yang merindukan pendidikan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar