Care For Education hanyalah sebuah nama,
sebuah nama tentang gerakan pendidikan. Sebuah nama yang selalu kita
kembalikan kepada tatanan makna yang sebenarnya, bukan sebuah nama yang
mulai trend dengan pergeseran makna hakekatnya, seperti yang telah terjadi
dalam tatanan peradaban modern, peradaban modern yang ternyata hanyalah
sebuah plagiatisme semata, Negara yang nyatanya hanyalah sebuah sistem
perusahaan, kepemimpinan, yang nyatanya hanyalah sebuah paradoks mencari
upeti dan menjadi buruh dinegeri sendiri, institusi pendidikan yang
sekarang malah menjadi sebuah industri dengan profit tinggi, kemanusiaan
yang dijunjung tinggi menyisakan sebuah elegi negeri yang tak tau diri,
ketuhanan,dengan nama tuhan yang mulai disejajarkan dengan
ketenaran, padahal tuhan itu bukan artis.
Latihan dasar kepemimpinan menjadi ajang pencarian bakat para pemimpin- pemimpin instan dengan segala embel-embel gelar dan sertifikatnya, padahal mie instan-pun perlu proses untuk dapat disajikan. Dan ini adalah sebuah gerakan kecil dari hal yang paling kecil yaitu "kepedulian", dari hal yang paling dasar untuk mengangkat derajat seseorang yaitu "pendidikan". karena ini adalah sebuah gerakan peduli pendidikan maka siapapun dia yang ada didalam gerakan ini akan selalu meniadakan dirinya, Riri Artakusuma yang akan selalu menjadi Riri seutuhnya tak perlu menggembar-gemborkan siapa diri dibalik nama Riri Artakusuma, Valentina Palma, dia akan selalu menjadi Valent yang selalu siap dalam kondisi apapun untuk melancarkan gerakan ini dan Zaenmi Arlis yang dalam keheningannya akan selalu mendukung apapun keputusan untuk operasional CfE, kemudian satu hal yang membuat suatu kegaguman adalah para relawan lainnya, padahal mereka belum tahu benar visi dan misi dari gerakan ini. Akan tetapi mereka tahu ini sebuah gerakan peduli pendidikan dan mereka tahu makna hakekat gerakan ini, ini bukti sebuah ketulusan. Ada atau tidaknya para perintis gerakan ini bukanlah sebuah alasan untuk kelangsungan gerakan ini.
Latihan dasar kepemimpinan menjadi ajang pencarian bakat para pemimpin- pemimpin instan dengan segala embel-embel gelar dan sertifikatnya, padahal mie instan-pun perlu proses untuk dapat disajikan. Dan ini adalah sebuah gerakan kecil dari hal yang paling kecil yaitu "kepedulian", dari hal yang paling dasar untuk mengangkat derajat seseorang yaitu "pendidikan". karena ini adalah sebuah gerakan peduli pendidikan maka siapapun dia yang ada didalam gerakan ini akan selalu meniadakan dirinya, Riri Artakusuma yang akan selalu menjadi Riri seutuhnya tak perlu menggembar-gemborkan siapa diri dibalik nama Riri Artakusuma, Valentina Palma, dia akan selalu menjadi Valent yang selalu siap dalam kondisi apapun untuk melancarkan gerakan ini dan Zaenmi Arlis yang dalam keheningannya akan selalu mendukung apapun keputusan untuk operasional CfE, kemudian satu hal yang membuat suatu kegaguman adalah para relawan lainnya, padahal mereka belum tahu benar visi dan misi dari gerakan ini. Akan tetapi mereka tahu ini sebuah gerakan peduli pendidikan dan mereka tahu makna hakekat gerakan ini, ini bukti sebuah ketulusan. Ada atau tidaknya para perintis gerakan ini bukanlah sebuah alasan untuk kelangsungan gerakan ini.
Kepedulian terhadap pendidikan bukan hanya di ranah akademik yang lebih
sering menyisakan intrik. Ada sebuah kewajiban dari orang yang merasa
terdidik untuk mendidik orang lain yang belum terdidik agar mereka
mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang dapat mengembalikan mereka, kembali kepada
fitrahnya sebagai manusia yang menuhankan Tuhan bukan ketuhanan.
"Karena pendidikan adalah mata uang paling laku di seluruh negeri dimuka bumi ini"
